Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label aqidah

Ketika Sahabat Nabi Dicela

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah... -QS. At Taubah: 100- Ideologi Syi’ah sudah mulai gencar disebarkan oleh para penganutnya di Indonesia. Tidak hanya itu, tokoh-tokoh Syi’ah pun saat ini sudah mulai berani menampakkan taringnya ke permukaan.  Sebut saja Tajul Muluk yang menuai kontroversi akibat menyebarkan ajaran Syi’ahnya dengan menghina para sahabat Nabi. Memang, dalam aqidah mereka, para sahabat –semoga Allah meridhai mereka- telah murtad kecuali beberapa saja [1] sehingga wajar bila mereka dan ulama-ulama mereka dengan serampangan menghina, melecehkan, hingga melaknat para sahabat dan tidak ketinggalan isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. [2] Tidak hanya itu, kalangan Syi’ah di Indonesia juga tidak mau ketinggalan dalam melaknat para sahabat Nabi – radhiyallahu ‘anhum - dalam karya-karya mereka, ...

Di Manakah Allah?

Dasar tauhid dan ruhnya adalah keikhlasan dalam mewujudkan cinta kepada Allah. Cinta merupakan landasan penyembahan dan peribadatan kepada-Nya, bahkan cinta itu merupakan hakikat ibadah. Tidak akan sempurna tauhid kecuali bila kecintaan seorang hamba kepada Rabbnya juga sempurna -Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, Al Qaulus Sadid, hlm. 110- Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya. Salah satu tujuan diciptakannya manusia adalah untuk beribadah dengan kesempurnaan cinta dan kehinaan diri. Apa itu cinta? Cinta tidak bisa didefinisikan. Jika didefinisikan maka akan semakin rancu. Apabila diakatakan ‘cinta’ tentu semua orang bisa memahaminya. Allah Ta’ala dicintai bukan karena sesuatu yang lain, Allah dicintai dari berbagai sisi. Seluruh hati diciptakan dengan tabiat cinta kepada siapa saja memberinya nikmat dan bersikap baik kepadanya. Maka bagaimana dengan dzat yang seluruh kebaikan berasal darinya...

Mengapa Tauhid Harus Dibagi Tiga?

Sesungguhnya ilmu tauhid adalah ilmu yang paling mulia dan paling agung kedudukannya. Setiap muslim wajib mempelajari, mengetahui, dan memahami ilmu tersebut, karena merupakan ilmu tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala, tentang nama-nama-Nya, sifat-sifatNya, dan hak-hakNya atas hambaNya - Syarh Ushulil Iman, Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin- Dalam pembahasan sebelumnya , telah dijelaskan bahwa tauhid itu terbagi dalam tiga bagian: Tauhid rububiyah, tauhid uluhiyah, dan tauhid Asma’ wa shifat.         Seperti yang diketahui, bahwa Tauhid rububiyah adalah penetapan bahwa Allah ta'ala adalah Rabb, Penguasa, Pencipta serta Pemberi Rezeki dari segala sesuatu. Dan juga menetapkan bahwa Allah adalah Dzat Yang Menghidupkan dan Mematikan, Pemberi Kemanfaatan dan Kemudharatan, yang Maha Esa dalam mengabulkan doa bagi orang yang membutuhkan. BagiNya-lah segala urusan, dan di tanganNya-lah segala kebaikan. Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tidak ada bagi-Nya sek...