Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label motivasi

Antigalau

“ Cintailah orang yang kamu cintai sewajarnya, boleh jadi pada suatu hari kelak ia akan menjadi orang yang engkau benci .” ( HR. Tirmidzi dan Bukhari dalam Adabul Mufrad ) Sebagai manusia, kita sudah diciptakan dengan sempurna oleh Rabb kita dengan yang namanya fitrah. Entah itu fitrah untuk makan, tidur, lapar, dan yang lainnya. Fitrah ini sudah ditentukan kadarnya, tidak boleh lebih dan tidak boleh kurang, karena jika tidak maka pasti akan ada yang namanya ketidakseimbangan, dan tentu tidak akan menjadi sempurna. Termasuk juga fitrah untuk mencintai dan dicintai. Rasa cinta yang ditanamkan Allah di dalam hati-hati manusia merupakan karunia besar bagi kita. Bagaimana tidak, jika bukan karena fitrah cinta ini, bagaimana jiwa kita bisa terpelihara? Bagaimana hati akan hidup bila cinta tidak mengalir dalam tubuh kita? Bagaimana hidup kita akan lurus jika tanpa cinta? Bagaimana pun, cinta adalah perasaan suci, yang Allah tanam agar kita menjadi sempurna. Namun seringkali perasaan suci...

Karena Semua Ada Hikmahnya

Sesungguhnya jika Allah mencintai suatu kaum Dia menguji mereka. Barangsiapa yang ridha niscaya ia akan mendapatkan ridha-Nya. Barangsiapa kesal dan benci niscaya ia akan mendapatkan kemurkaan-Nya -HR. Tirmidzi- Kini, mari kita sejenak menengok sejarah kita di belakang. Kita mundur kembali ke masa Daulah Bani Umayyah. Saat itu hiduplah seorang lelaki yang tinggal di Bashrah. Ia merupakan salah satu komandan perang bawahan Ubaidillah bin Ziyad (gubernur Kufah dan Bashrah). Suatu hari lelaki itu jatuh dari atap rumahnya hingga menyebabkan kedua kakinya patah. Tak ayal, hal itu merupakan musibah yang berat bagi sang komandan. Bayangkan, sebelumnya ia adalah seorang komandan perang yang gagah perkasa, namun dalam sekejap berubah menjadi seorang yang bahkan berdiri saja tidak bisa. Maka Abu Qilabah datang untuk menjenguknya, ia berkata pada sang komandan, “ Aku berharap semoga engkau mendapatkan kebaikan .” Ia menjawab, “ Wahai Abu Qilabah, kebaikan apa yang didapatkan dari dua kakiku yang ...

Memanfaatkan Waktu Ala Generasi Salaf

"Waktu akan semakin berharga bila dijalankan dengan baik, dan aku melihat waktu itu sesuatu yang paling mudah untuk kita lalaikan" -Yahya bin Muhammad bin Hubairah, dicantumkan dalam Dzail Thabaqatil Hanabilah I/281 -     Ibnul Jauzi rahimahullah, salah satu ulama kaum muslimin mengisahkan,       “Saya telah melihat banyak orang yang berjalan-jalan bersama saya melakukan kunjungan sebagaimana yang telah menjadi kebiasaan masyarakat. Mereka menyebut itu sebagai bentuk ‘pelayanan’. Mereka biasanya mencari tempat duduk (di kediaman seseorang) dan memperbincangkan omongan yang tidak berguna. Kadang diselingi dengan menggunjing orang lain.         Kebiasaan semacam itu banyak dilakukan di masyarakat kita sekarang. Terkadang acara itu menjadi tuntutan yang digandrungi, seorang diri pun pergi dipaksa-paksakan; khususnya pada hari raya ‘Id. Kita bisa melihat orang-orang saling mengunjungi ke rumah teman atau kerabatnya. ...