Langsung ke konten utama

Antigalau


Cintailah orang yang kamu cintai sewajarnya, boleh jadi pada suatu hari kelak ia akan menjadi orang yang engkau benci.”
(HR. Tirmidzi dan Bukhari dalam Adabul Mufrad)

Sebagai manusia, kita sudah diciptakan dengan sempurna oleh Rabb kita dengan yang namanya fitrah. Entah itu fitrah untuk makan, tidur, lapar, dan yang lainnya. Fitrah ini sudah ditentukan kadarnya, tidak boleh lebih dan tidak boleh kurang, karena jika tidak maka pasti akan ada yang namanya ketidakseimbangan, dan tentu tidak akan menjadi sempurna. Termasuk juga fitrah untuk mencintai dan dicintai.


Rasa cinta yang ditanamkan Allah di dalam hati-hati manusia merupakan karunia besar bagi kita. Bagaimana tidak, jika bukan karena fitrah cinta ini, bagaimana jiwa kita bisa terpelihara? Bagaimana hati akan hidup bila cinta tidak mengalir dalam tubuh kita? Bagaimana hidup kita akan lurus jika tanpa cinta? Bagaimana pun, cinta adalah perasaan suci, yang Allah tanam agar kita menjadi sempurna.


Namun seringkali perasaan suci ini malah menjadi penyakit yang menjadi, dan ini banyak melanda generasi remaja kita. Darah muda yang bergejolak itu justru terkadang membuat cinta yang sejatinya meluruskan akal menjadi fitnah bergolak. Kadar cinta yang telah diatur malah rusak, kacau diamuk nafsu berombak. Memang tak bisa dipungkiri, ketika menginjak usia remaja maka saat itulah cinta menyapa hangat. Perasaan cinta yang indah untuk pertama kalinya baru terasa besar di dalam hati kecil itu. Rasanya? Deg-degan, tak karuan, hingga cenat-cenut. Nah, ketika kita tidak tahu bagaimana menyikapinya, dunia mengenal kosakata baru untuk kasus ini: Galau.



Tidak ada kabar dari dia yang dicintai, galau. Tidak ketemu, galau. Melihat dia dengan ‘pesaing’ lain, galau. Tak jarang rasa galau yang membuncah itu mengakibatkan banyak hal. Bisa jadi stres, menangis meraung-raung di pojok kamar, bahkan hingga bunuh diri.


Kita semua tahu pacaran itu terlarang dalam agama yang mulia ini. Tetapi ketika perasaan itu sudah ‘menuntut hak’-nya untuk saling mencintai? 


Duh, kan gelisah kalau cuma ditunggu tapi nggak datang-datang...” begitu kata orang yang kebelet pacaran. Tapi yang harus dipahami bukan tentang ‘agar dia datang padaku’ supaya kita tidak galau, melainkan bagaimana kita menata hati agar galau tidak menjadi penyakit dalam diri kita.


Yang pertama yang harus disadari adalah, kitalah yang seharusnya mengendalikan cinta, dan bukan sebaliknya. Banyak orang yang kehilangan kendali dirinya karena cinta. Demi cinta ia hamburkan segala yang ia punya, padahal sia-sia. Ingatlah, pengendalian diri merupakan modal utama untuk ketenangan diri. Masihkah teringat kisah Salman Al-Farisi dan Abu Darda –radhyiyallahu ‘anhum-?


Suatu hari, Salman Al-Farisi berniat untuk menikahi seorang wanita Madinah. Dan ketika hendak melamarnya, ia butuh ditemani oleh saudaranya –yang dipersaudarakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam- yakni Abu Darda. Maklum, ia orang asing yang berasal dari Persia, tentu ia butuh ditemani agar lamarannya berjalan lancar. Ketika sampai di rumah wanita itu, Abu Darda melamarkan wanita itu untuk Salman. Ternyata, jawaban wanita atas lamaran tersebut tidak seperti sinetron yang happy-ending bagi Salman, karena justru yang dipilih wanita tersebut adalah sahabatnya sendiri, Abu Darda.


Apakah karena itu Salman marah? Murka? Bunuh diri? Tidak. Justru inilah jawaban Salman, 

Semua mahar dan nafkah yang kupersiapkan akan aku serahkan pada Abu Darda, dan aku akan menjadi saksi pernikahan kalian”.


Inilah potret seorang yang bisa mengendalikan cintanya dan bukan menjadi cinta yang liar. Inilah Salman, tidak diperbudak dengan cinta dan nafsunya, namun melihat lewat kacamata keikhlasan. Ia tidak memaksakan kehendak cintanya. Karena ia tahu bagaimana sebenarnya cinta yang matang. Ia tahu bahwa cinta yang sempurna datang dari hati yang kuat dan bukan hati yang labil.


Lain lagi dengan Ibnul Qayyim Al Jauziyah, ulama besar ahli penyucian jiwa. Ia dahulu jatuh cinta pada puteri gurunya, Imam Al Mizzi. Namun siapa sangka, tuan putri tidak dinikahkan dengan Ibnul Qayyim, melainkan dengan Ibnu Katsir, sang ahli tafsir yang tidak lain adalah murid Ibnul Qayyim sendiri!


Apakah dengan itu Ibnul Qayyim melaknat muridnya? Tidak. Justru Ibnul Qayyim terus berkarya, menebar ilmu yang bermanfaat. Tidak seperti remaja galau yang hanya menangisi hidupnya karena kepergian sang kekasih.


Selain itu, yang harus kita sadari adalah cinta menuntut perbaikan diri. Karena sudah seharusnya cinta seorang muslim mengantar kepada kebaikan. Dalam Al Qur’an Allah berfirman,


Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki- laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)” (QS. An-Nuur: 26)


Jika memang cinta kepada orang itu adalah yang terbaik bagi kita, maka seharusnya kita terus berusaha memperbaiki diri kita. Karena yang kita kejar adalah kebaikannya. Dan memang jika tidak, maka yakinlah bahwa ada yang lebih baik untuk kita. Jadi, untuk apa galau berlama-lama? Tidakkah sebaiknya kita memperbaiki diri agar cinta kita menjadi cinta yang terbaik pada orang yang terbaik?


Dan terakhir, jangan putus asa karena yakinlah bahwa Allah punya rencana terbaik untuk kita. Sekali pun seluruh manusia hendak menjatuhkan kita, tetapi jika Allah telah menggariskan kebalikannya, maka tidak akan terjadi. Begitu pun dalam hal galau-menggalau ini. Kalau Anda adalah orang yang berpikiran jauh ke depan hingga ke jenjang pernikahan dan gelisah “Aduh, bagaimana ya masa depanku?” tenang saja, Allah telah menyiapkan yang terbaik selama kita melakukan yang terbaik.


Fatimah, puteri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, sempat menggegerkan Madinah. Pasalnya karena waktu itu Abu Bakar melamarnya, namun lamaran tersebut ditolak. Bayangkan, seorang Abu Bakar, sahabat nabi terbaik, mertua Nabi, lamarannya ditolak!

Kemudian, datang lagi kabar mengejutkan. Lamaran Umar bin Khattab, seorang Al-Faruq, yang bahkan setan pun lari menghindarinya, yang juga mertua Nabi, ditolak! Duhai, kira-kira jodoh seperti apa yang sesuai dengan Fatimah?


Ternyata yang berjodoh dengan Fatimah adalah Ali bin Abi Thalib yang saat itu justru kemampuannya kurang berada, yang kalau masalah kemuliaan masih kalah dibanding dengan dua sahabat tadi. 


Tapi itulah kenyataannya. Tak perlu galau, tak perlu gelisah, karena jika Allah berkehendak, maka jadilah.

______________________________


Sumber penulisan:


Al Adabul Mufrad, Imam Bukhari. Edisi Indonesia: Ensiklopedi Hadits-hadits Adab. Penerbit: Pustaka As Sunnah


Kajian rutin Ustadz Syariful Mahya Lubis, Lc. di Masjid Al Istiqamah, Taman Yasmin, Bogor.




Juara Favorit Lomba Esay MAHAPATI dan Kajian Akbar 12 Mei 2013 di Masjid Al Falah, Surabaya

R. Iqbal M.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mulia Sebagai Seorang Muslim

“Ketahuilah, kita adalah kaum yang paling hina, lalu Allah memuliakan dengan mendatangkan agama Islam. Karena itu jika kita mencari kemuliaan dengan selain Islam, maka Dia akan menghinakan kita” -Umar bin Khattab, Lihat dalam Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah - Umar bin Khaththab namanya. Ia adalah orang yang telah meruntuhkan Kerajaan Kisra Persia dan juga telah menghapus hegemoni Kaisar Romawi –dengan izin Allah-. Ia seorang penguasa Islam dengan kesahajaannya yang memukau. Ya, Ia yang dengan tenang tidur di bawah pohon kurma di Kota Madinah sementara penguasa lain tidur di atas kemewahan, ia yang memakai pakaian tenun sederhana sementara penguasa lain memakai pakaian bertahtakan permata.  Dan kini, Ia sedang berjalan menuju Syam dalam rangka penyerahan Baitul Maqdis kepada kaum muslimin. Dalam perjalanan itu ia sempat melewati sebuah sungai. tidak disangka, ia langsung turun, mengalungkan sepatunya, dan menuntun sendiri untanya! Ketika penguasa lain yang telah merasa tinggi deng...

Double Cover Reveal & Pre-Order: John + Siena!

★ DOUBLE COVER REVEAL! ★ Fan-Favorites of Bethany-Kris’s are coming back! Pre-order  your copy of John + Siena: THE COMPLETE DUET or EXTENDED by Bethany-Kris to catch up with John & Siena one more time! ★ Cover Credits: John + Siena: The Complete Duet – London Miller, Author John + Siena: Extended – Mignon Mykel, Oh So Novel ★ Releasing: The Complete Duet: February 3 rd , 2020 Extended: February 10 th , 2020 ★ Bloggers: Sign up for the release events for John + Siena HERE ! Pre-order today!   The Complete Duet Pre-Order: ★ Amazon ★ Add to Goodreads TBR Extended Pre-Order: ★ Amazon ★ Add to Goodreads TBR ★ Genre: Romantic Suspense, Organized Crime, Erotic ★ • ✩ • ★ SYNOPSIS – The Complete Duet ★ • ✩ • ★ Fresh out of prison after serving a three-year sentence, Johnathan Marcello wants to get back to normal business as a mafia capo. The rules set out for him are clear—keep out of trouble, maintain a low profile, and stay stable. But a chance encounter with a woman from a r...

AMA - You ask, Bethany Answers!

Hey, loves. It’s that time of the week again where you ask all your burning questions, and I try to answer them as best that I can. Sorry this is a little late today, we had a bad storm and lost power for a bit. Also note: there will be no AMA next week, it's Christmas. ;) Do you have a question for me? Great. Put it in HERE . Now, onto the questions for the week. * 1. Hi, Bethany.1st I like to tell you that I love your books. My question is, will there be a book for Valeria on what she went through with her past and future when she is taken with her daughter Maria. Thank you I can't wait for more future books from you. Kimberly Hey, there. And thank you for the kind words. Valeria is paired with Christopher Guzzi, which I think I have stated before – I know it’s listed on my fan page in the albums for the family trees, and it may even be on my website. But yes, you will get her story there. No, we will not see a lot of her past – parts of it, yes, and she will talk about it, b...