Langsung ke konten utama

Jati Diri Kaum Muslimin


Sejenak, mari kita tengok masa lalu umat Islam, yaitu ketika di tahun 656 Hijriah atau tahun 1258 Masehi. Ketika Abbasiyah jatuh ke tangan Mongolia di bawah pimpinan Hulaghu Khan, kaum muslimin saat itu dalam keadaan yang sangat kacau. Banyak infrastruktur milik kaum muslimin hancur berantakan. Mulai dari masjid-masjid, gedung pemerintahan, sekolah-sekolah, dan gedung-gedung perpustakaan diporak-porandakan oleh Hulaghu dan bala tentaranya. Seluruh keluarga khalifah terbunuh, tak terkecuali khalifah terakhir Bani Abbasiyah, al-Mu’tashim. Saat itu, kaum muslimin benar-benar dalam keadaan yang sangat kelam. Kaum muslimin tidak memiliki pemimpin, tidak memiliki panutan, tidak memiliki kekuatan. Saat-saat itu merupakan saat-saat kelumpuhan total bagi kaum muslimin dan merupakan kisah pilu tentang luluh lantaknya peradaban kaum muslimin yang telah dibangun dari keringat, darah, harta dan jiwa seluruh umat Islam.
Kaum muslimin di zaman itu bertekuk lutut kepada kaum kuffar. Dan mereka saat itu harus mematuhi hukum yang ditetapkan oleh Mongol yang disebut sebagai Kitab al-Yasiq. Kitab itu merupakan kitab perundang-undangan yang merupakan perpaduan antara kitab suci Islam, Yahudi, Kristen, dan pendapat-pendapat atau putusan yang dibuat oleh Jenghis Khan, pemimpin besar Mongol.  
Namun, apa yang terjadi? Satu hal yang paling membuat kita terkagum adalah di antara kaum muslimin, tidak seorang pun dari mereka yang berganti identitas dan jati diri. Mereka tetap berkepribadian muslim sejati. Tidak ada yang berubah, mulai dari bahasa, budaya, tata kelakuan, dan gaya hidup. Mereka masih memegang teguh prinsip-prinsip seorang muslim.
Sementara itu, bagaimana keadaan al-Yasiq? Ternyata hukum yang telah sudsah payah dibuat itu ditelan debu peradaban dan waktu. Al-Yasiq hanya tinggal sejarah. Tidak ada satu orang pun dari kaum muslimin yang mau mempelajarinya, apalagi menggunakannya. Kaum muslimin tetap seperti yang dunia kenal saat itu, tetap berpegang teguh kepada Islam, al-Qur’an, dan Sunnah. Bahkan, orang Mongol sendirilah yang akhirnya memeluk Islam, karena mereka sadar, satu-satunya kebenaran hanya ada pada Islam. Sejarah telah membuktikannya, di mana seorang keturunan Jenghis Khan akhirnya menjadi penguasa muslim yang termasyhur di zamannya, dialah Timur Lenk atau Tamelane (sosok ini merupakan sosok kontroversi dalam sejarah Islam. Ada yang berpendapat bahwa dirinya pemeluk Syi’ah dan tarekat-tarekat yang sesat lainnya. Ada lagi yang berpendapat bahwa dirinya merupakan pahlawan Islam yang taat. Kita berlepas dari segala kontroversinya. Wallahu a’lam)
Namun saat ini ternyata kita melihat kebalikannya. Kondisi dunia saat ini memang mirip dengan kondisi kaum muslimin 8 abad yang lalu. Di mana kaum muslimin tidak memiliki pemimpin (khalifah), kaum muslimin berada di tengah-tengah gempuran kaum kuffar, mulai dari Irak, Palestina, Afghanistan, Asia Minor, Chechnya, dan Filipina. Kaum muslimin dijejali dengan hukum dan undang-undang buatan manusia yang merupakan pencampuran dari berbagai pemikiran, mulai dari pluralisme, liberalisme, dan sekularisme. Kaum muslimin tidak lagi menggunakan Qur’an sebagai dasar negara, tetapi diganti dengan undang-undang yang setipe dengan al-Yasiq pada masa lalu.
Namun yang berbeda adalah, sekarang kaum muslimin tidak lagi mempertahankan jati diri mereka sendiri sebagai seorang muslim. Dengan bangganya mereka meniru-niru perbuatan, budaya, pemikiran, dan gaya hidup kaum kuffar. Jika 8 abad lalu kaum muslimin tetap sebagai muslim sejati, sekarang sudah banyak kaum muslimin yang berperan sebagai ‘muslim pengekor’. Padahal, secara tidak langsung hal itu merupakan sebuah bentuk penghinaan diri sendiri sebagai muslim di hadapan orang-orang kafir.
Jika 8 abad yang lalu justru orang Mongol yang meninggalkan al-Yasiq dan mempelajari al-Qur’an, sekarang sebaliknya. Kaum muslimin sendiri sering meninggalkan al-Qur’an dan dengan bangganya mereka mempelajari ilmu perundang-undangan sesat dan membangkang pada hukum yang telah ditetapkan oleh Allah.
Dan sekarang, sudah saatnya kita sadar bahwa selama ini kita telah mengekor pada orang kafir. Sudah saatnya sekarang kita bangkit dan menggantikan tatanan yang telah rusak ini dengan tatanan yang lebih baik lagi dari Allah di langit ke tujuh.
Wallahu a’lam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kupas Tuntas Hukum Shalat Berjama'ah di Masjid

            Semenjak kecil, kita sudah tahu bahwa shalat berjama’ah di masjid adalah salah satu bentuk ibadah yang sangat ditekankan oleh Islam melalui dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Banyak ummat Islam yang mengerjakan shalat berjama’ah karena ingin mendapatkan pahala dan semangat besar untuk beramal shalih. Memburu pahala dan menginginkan ridhaNya sekaligus mempererat tali ukhuwah Islamiya menjadi salah satu faktor terbesar untuk shalat berjama’ah di masjid Tetapi ternyata banyak yang masih belum tau bagaimana sebenarnya hukum dari shalat berjama’ah itu sendiri. Bagaimana sebenarnya para ulama menjelaskan mengenai hukum shalat berjama’ah di masjid, baik laki-laki maupun perempuan. Ustad A bilang itu wajib, kalau gak jama’ah di masjid gak sah shalatnya, Kiai B bilang itu sunnah saja. Jadi, mana yang benar?             Khilaf di Antara Para Ulama   ...

Kupas Tuntas: Adakah Bid'ah Hasanah?

“Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, namun tidak mendapatkannya” - HR. Ad Darimi , atsar Abdullah bin Mas’ud- Oleh: Ustadz Syariful Mahya Lubis, Lc.* Sejumlah jawaban direkayasa, sejumlah dalilpun dipaksakan, demi melegalkan bid’ah, dan demi memberanikan orang melakukannya. Pertanyaan tersebut terkait langsung dengan Islam, yang oleh karenanya membutuhkan jawaban yang merujuk kepada Al Qur’an dan Hadits sebagai sumber kebenaran dalam Islam, jawaban-jawaban yang hanya bersifat logika, tidak akan dapat menguak kebenaran dalam permasalahan Islam. Sebab selogis apapun sebuah jawaban tetap saja ia spekulasi relatif, yang sudah pasti dapat dipatahkan dengan hal yang sama, lebih-lebih apabila jawaban-jawaban logis tadi kontaradiktif dengan dalil-dalil yang syar’i. Definisi Nabi ï·º bersabda, “ Siapapun yang melakukan amal yang tidak kami perintahkan , maka amal tersebut tertolak (tidak diterima)” ( HR. Bukhari dan Muslim , dari ‘Aisyah) . Beliau juga bersabda, “ Setiap (ibadah) y...

Lebaran Ikut Siapa?

Permasalahan ini sering muncul dari berbagai pihak ketika menghadapi hari Arofah. Ketika para jama’ah haji sudah wukuf tanggal 9 Dzulhijah di Saudi Arabia, padahal di Indonesia masih tanggal 8 Dzulhijah, mana yang harus diikuti dalam puasa Arofah? Apakah ikut waktu jama’ah haji wukuf atau ikut penanggalan Hijriyah di negeri ini sehingga puasa Arofah tidak bertepatan dengan wukuf di Arofah? Syaikh Muhammad bin Shalih ‘Utsaimin pernah diajukan pertanyaan: Kami khususnya dalam puasa Ramadhan mubarok dan puasa hari Arofah, di antara saudara-saudara kami di sini terpecah menjadi tiga pendapat. Pendapat pertama : kami berpuasa bersama Saudi Arabia dan juga berhari Raya bersama Saudi Arabia. Pendapat kedua : kami berpuasa bersama negeri kami tinggal dan juga berhari raya bersama negeri kami.    Pendapat ketiga : kami berpuasa Ramadhan bersama negeri kami tinggal, namun untuk puasa Arofah kami mengikuti Saudi Arabia. Kami mengharapkan jawaban yang memuaskan mengenai puasa bulan Ram...