Langsung ke konten utama

Muslim Sejati

Menurut pendapat anda, siapakah sebenarnya yang disebut sebagai seorang muslim? Siapa sebenarnya orang-orang yang pantas kita sebut sebagai muslim? Apakah kita sudah pantas disebut sebagai seorang muslim sejati?

            Sahabat…
            Kita, sebagai orang yang telah bersyahadat tentu otomatis telah menjadi seorang muslim. Namun di sini, yang ingin saya tanyakan adalah apakah keIslaman kita telah sempurna? Karena jika  kita telah bersyahadat, telah mengucapkan kalimat tauhid dan pengakuan akan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai utusan Allah. Kita telah menjadi seorang muslim. Namun jika ternyata sikap kita tidak berubah menjadi lebih baik, tidak mencerminkan akhlak yang baik, tidak beramar ma’ruf nahi munkar, apakah kita telah pantas disebut sebagai sorang muslim sejati?
            Mula-mula, sebenarnya kita harus menyelidiki mengapa kita memeluk agama ini. Banyak diantara kita memeluk agama Islam karena terlahir dalam keadaan demikian, dalam keluarga muslim. Namun satu hal yang harus kita pahami adalah Islam itu harus kita mengerti sepenuhnya. Kita harus benar-benar memilih Islam karena kecintaan dan ketulusan kita pada kebenaran yang hanya satu-satunya dimiliki oleh Islam. Jika kita hanya Islam secara keturunan, maka apa makna Islam sebenarnya jika tidak kita pahami apa itu Islam sendiri. Kita harus tahu dan mengerti bahwa,
            “Islam dibangun di atas lima perkara, mengesakan Allah, mendirikan salat, membayar zakat, puasa Ramadan dan menunaikan haji” (H.R. Muslim)
             Jika kita menganut Islam lantaran ‘hanya’ dari keturunan dan tanpa ketulusan, maka lihatlah kondisi dunia saat ini yang dipenuhi oleh kaum muslimin namun ternyata banyak di antara kaum muslimin itu sendiri tidak mencerminkan dan mencitrakan bahwa dirinya adalah seorang muslim. Lihatlah orang-orang yang mengumbar aurat dan melaksanakan kemaksiatan! Bahwa ternyata di antara mereka ada orang Islam di dalamnya. Mereka itu turut masuk ke dalam lingkaran kemaksiatan karena tidak menanamkan nilai-nilai keIslaman pada hati mereka walaupun mereka adalah seorang muslim.
            Karena itu, kita harus sadar dan benar-benar tulus memilih agama Islam sebagai jalan yang kita lalui. Karena hanya Islamlah jalan yang mampu mengantarkan kita kepada surga dan keridhaan Allah. Dan jika kita telah memilih Islam, maka jangan sampai keIslaman kita itu kadarnya setengah-setengah. Karena Allah telah memerintahkan kita,
            “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (Q.S. al-Baqarah: 208)
            Allah telah jelas memerintahkan kita dalam ayat ini bahwa jika kita telah beriman dan memilih Islam, maka kita pun harus keseluruhan memeluk Islam. Baik dari pemikiran, ideologi, tindakan, perbuatan, dan kepribadian kita harus benar-benar dilandaskan pada syariat-syariat Islam yang telah Allah turunkan dari langit ketujuh dengan al-Qur’an.
            “Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan sebuah kitab (Al Quran) kepada mereka yang Kami telah menjelaskannya atas dasar pengetahuan Kami, menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Q.S. al-A’raaf: 52)
            Dengan ini, berarti kita harus benar-benar total menjalankan agama Allah. Bahkan hingga kita mati pun nanti tentu harus tetap berpegang teguh pada agama Allah ini. Kita diperintahkan untuk bertakwa dengan sebenar-benarnya takwa, dengan totalitas ketakwaan kita. Bahkan sampai mati pun kita haru tetap bejalan di atas jalan ketakwaan.
            “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya. Dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam Keadaan beragama Islam.” (Q.S. Ali Imran: 102)
            Ya, kita tidak hanya sekedar bertakwa. Tapi SEBENAR-BENARNYA TAKWA. Itu berarti kita harus terus menyempurnakan ketakwaan kita hingga ajal menjemput. Tetapi ternyata kondisi di dunia ini begitu rusak karena saat ini sudah jarang orang yang mau melaksanakan takwa dengan sebenar-benarnya. Banyak diantara kaum muslimin ternyata berIslam identitasnya saja. Bukan akhlak, perilaku, dan kepribadiannya. Tetapi sebenarnya, mengapa kita harus bertakwa?
            Karena jika kita bertakwa kepada Allah, maka sungguh! Allah akan memberikan kepada kita.
            “Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa mendapat kemenangan,” (Q.S. an-Naba’: 31)
            Dan jika anda bertakwa kepada Allah, maka yakinlah bahwa sesungguhnya anda akan mendapatkan rizki dan solusi hidup anda. Janganlah anda ragu wahai saudaraku! Bahwa sesungguhnya, jalan keluar dari segala permasalahan anda akan tiba di depan mata anda tanpa disangka-sangka,
            “…Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah Mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (Q.S. ath-Thalaaq: 2-3)
            Ya, jika hidup ini terasa sulit dan menyusahkan anda. Maka introspeksi dirilah, sudahkah anda menjadi orang yang bertakwa? Banyak orang di dunia ini dilanda kemelut dalam kehidupannya. Banyak orang yang akhirnya menjadi gila atau bahkan mengakhiri hidupnya sendiri lantaran tidak mendapat jalan keluar atas masalahnya. Padahal, solusinya hanya satu. Bertakwa kepada Allah!
             Wallahu a'lam

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tidak Sebaik Musa, Tidak Sejahat Fir'aun

“ Sesungguhnya Allah itu Maha Lembut, Dia mencintai kelembutan dalam segala urusan ” - HR. Bukhari - Sejenak, mari kita kembali ke zaman dahulu kala, kembali pada lembaran sejarah dunia yang dinodai oleh kekafiran seorang Fir’aun. Ya, diktator nomor 1 sepanjang sejarah manusia ini merupakan penguasa sebuah peradaban yang paling maju di dunia saat itu. Harta, tahta, dan dunia seakan keseluruhan adalah miliknya. Tapi memang dasar Fir’aun, ia yang tidak akan pernah merasa puas, Ia yang tak merasa cukup menjadi manusia saja, ia ingin menjadi lebih daripada itu, ia memiliki obsesi untuk melampaui batas-batas kemanusiaan. Ya, ia ingin menjadi TUHAN. “ Kemudian (Fir’aun) berkata, “Akulah tuhanmu yang paling tinggi ”” ( QS. An Naazi’at: 24 ) Dan dengan segala kekuasaan yang ia miliki, ia daulat dirinya sendiri sebagai Rabb semesta alam. Tangan besi Fir’aun yang telah merampas kehormatan ribuan atau mungkin jutaan manusia telah memaksa mereka untuk tunduk patuh secara mutlak kepada titahnya. E...

Kupas Tuntas: Adakah Bid'ah Hasanah?

“Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, namun tidak mendapatkannya” - HR. Ad Darimi , atsar Abdullah bin Mas’ud- Oleh: Ustadz Syariful Mahya Lubis, Lc.* Sejumlah jawaban direkayasa, sejumlah dalilpun dipaksakan, demi melegalkan bid’ah, dan demi memberanikan orang melakukannya. Pertanyaan tersebut terkait langsung dengan Islam, yang oleh karenanya membutuhkan jawaban yang merujuk kepada Al Qur’an dan Hadits sebagai sumber kebenaran dalam Islam, jawaban-jawaban yang hanya bersifat logika, tidak akan dapat menguak kebenaran dalam permasalahan Islam. Sebab selogis apapun sebuah jawaban tetap saja ia spekulasi relatif, yang sudah pasti dapat dipatahkan dengan hal yang sama, lebih-lebih apabila jawaban-jawaban logis tadi kontaradiktif dengan dalil-dalil yang syar’i. Definisi Nabi ï·º bersabda, “ Siapapun yang melakukan amal yang tidak kami perintahkan , maka amal tersebut tertolak (tidak diterima)” ( HR. Bukhari dan Muslim , dari ‘Aisyah) . Beliau juga bersabda, “ Setiap (ibadah) y...

Mulia Sebagai Seorang Muslim

“Ketahuilah, kita adalah kaum yang paling hina, lalu Allah memuliakan dengan mendatangkan agama Islam. Karena itu jika kita mencari kemuliaan dengan selain Islam, maka Dia akan menghinakan kita” -Umar bin Khattab, Lihat dalam Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah - Umar bin Khaththab namanya. Ia adalah orang yang telah meruntuhkan Kerajaan Kisra Persia dan juga telah menghapus hegemoni Kaisar Romawi –dengan izin Allah-. Ia seorang penguasa Islam dengan kesahajaannya yang memukau. Ya, Ia yang dengan tenang tidur di bawah pohon kurma di Kota Madinah sementara penguasa lain tidur di atas kemewahan, ia yang memakai pakaian tenun sederhana sementara penguasa lain memakai pakaian bertahtakan permata.  Dan kini, Ia sedang berjalan menuju Syam dalam rangka penyerahan Baitul Maqdis kepada kaum muslimin. Dalam perjalanan itu ia sempat melewati sebuah sungai. tidak disangka, ia langsung turun, mengalungkan sepatunya, dan menuntun sendiri untanya! Ketika penguasa lain yang telah merasa tinggi deng...