Langsung ke konten utama

Membuat Perubahan di Milenium Kedua, Bisakah?


Waktu selalu berjalan. Tidak pernah sedikit pun mundur. Sesuai sunnatullah, waktu tak pernah bergeser sedikit pun demi mengulang masa lalu. Waktu terus saja maju ke depan. Waktu yang asal muasalnya hanya Allah yang ketahui, telah meninggalkan bekas dan jejak dari berbagai macam peradaban dari masa lalu. Betapa banyak bentuk kebudayaan masa lalu yang kita kenal. Mulai dari kebudayaan Mesir kuno, peradaban Yunani Kuno, Romawi, Mesopotamia, dan Persia sebagai contohnya. Namun ternyata, peradaban itu pada akhirnya harus ditelan sejarah, meskipun memang diakui sebagai peradaban yang maju, namun tidak mampu bertahan dalam perputaran zaman.
            Dan memang, sejarah pun membuktikan perkembangan hidup manusia. Di mulai dari manusia pertama, Nabi Adam, lalu silih berganti muncul manusia-manusia lain dan menjadi kaum. Di mulai sejak Nabi Nuh, Hud, Shalih, Ibrahim, Luth, Ismail, Ishaq, dan akhirnya tiba pada rasul terakhir, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang datang dengan membawa syariat-syariat yang paling sempurna (karena memang pada masa itu kehidupan manusia sudah lebih berkembang). Dan syariat itu sudah seharusnya tetap dipakai hingga akhir zaman.
            Namun sekarang, ternyata kita telah menemukan perubahan yang begitu besar bagi peradaban umat manusia. Seiring berputarnya waktu, maka dengan itu pula teknologi dan peradaban manusia semakin berkembang. Hingga akhirnya sekarang, timbullah wacana yang menyebutkan bahwa syariat Islam sudah tidak lagi relevan dan sejalan dengan perkembangan zaman. Dan sekarang kita sebagai muslim yang hidup di era milenium kedua, kita harus mampu untuk merubah kondisi ini untuk menjadi zamannya generasi rabbani. Namun di tengah-tengah era serba high tech ini, bagaimana kita bisa melakukannya?
            Buka Pikiran, Hasilkan Perubahan
            Kita yang hidup sebagai muslim di zaman sekarang sudah seharusnya lebih membuka pikiran kita. Kita harus berpikiran secara luas. Namun membuka pikiran dalam konterks ini bukan berarti kita menerima segala doktrin dan pemikiran yang bertentangan dengan syariat Islam. Membuka pikiran ini artinya sudah seharusnya kita melihat segala permasalahan dengan cara pandang yang global. Dengan melihatnya secara dunia yang luas dan melihatnya lewat jendela Qur’an dan Sunnah. Mengapa? Karena memang terkadang pandangan kita condong pada kekeliruan. Dan sudah seharusnya kita lebih merujuk pada kebenaran yang datangnya hanya dari syariat Islam. Kita harus lebih berpikir sesuai dengan kebenaran dan kebaikan. Kita harus melihat segala masalah lewat cara yang simple dan mudah. Bagaimana caranya?
            Kita harus melihat mana yang lebih banyak manfaatnya jika kita dihadapkan ke dalam suatu kondisi. Mana yang lebih banyak? Manfaatnya atau mudharatnya? Jika lebih banyak manfaatnya, maka lakukanlah hal itu! Namun jika lebih banyak mudharatnya, maka tinggalkanlah!
            Minimal, jika kita sudah menerapkan hal itu pada kehidupan kita, insya Allah hal itu akan berpengaruh besar pada peradaban manusia di zaman sekarang yang memang sepertinya buta kebenaran. Tidak melihat sisi lain dari masalah itu sendiri.
            Berittiba’, Niscaya Akan Bebeda!
            Kehidupan kita sudah seharusnya menjadi teratur. Namun, kita perlu contoh keteladanan akan keteraturan itu sendiri. Namun bagaimana caranya? Tentu saja dengan berittiba’ (mengiku) pada cerminan kehidupan paling sempurna, kehidupan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan para shahabatnya!
            Kita saat ini sedang krisis figur keteladanan. Dan sudah saatnya kita kembali melanjutkan langkah kehidupan nabi dan para sahabatnya. Karena memang sekrang, kita telah sering melihat banyaknya kesalahan, kekeliruan, dan penyimpangan pada kehidupan kita. Kita saat ini telah banyak bergelut dengan masyarakat Islam yang sudah sering sekali melakukan bid’ah dalam kehidupannya. Padahal, bila kita kembali pada manhajnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya, maka kita akan lurus kembali.
            Coba kita lihat sekarang. Begitu banyak muslim yang melakukan bid’ah! Mereka berdalih bahwa hal itu merupakan perbuatan yag baik. Mereka melabeli perbuatan-perbuatan menyimpang itu dengan nama yang manis didengar. Misalnya bid’ah hasanah (bid’ah yang baik). Padahal sudah seharusnya kita menyadari, bahwa bila suatu hal itu baik, maka siapa yang seharusnya pertama kali melakukannya? Tentu saja Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
            Karena itu, kita sebagai umat yang hidup di akhir zaman ini sudah seharusnya kembali menghidupkan syariat Islam dalam kehidupan kita. Yang benar-benar berasal dari Qur’an dan Sunnah. Mulailah dari diri anda sendiri. Dan jika itu berhasil, maka sebarkanlah efek positif itu kepada lingkungan sekitar anda. Dengan apa? Tentunya dengan dakwah! Dan jika seluruh hal itu mampu kita lakukan, maka insya Allah, kita telah mencetak salah satu generasi yang paling baik, generasi rabbani!
            “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah…” (QS Ali Imran: 110)
            Wallahu a’lam

Komentar

Postingan populer dari blog ini

AMA - You ask, Bethany Answers!

Hey, loves. It’s that time of the week again where you ask all your burning questions, and I try to answer them as best that I can. Sorry this is a little late today, we had a bad storm and lost power for a bit. Also note: there will be no AMA next week, it's Christmas. ;) Do you have a question for me? Great. Put it in HERE . Now, onto the questions for the week. * 1. Hi, Bethany.1st I like to tell you that I love your books. My question is, will there be a book for Valeria on what she went through with her past and future when she is taken with her daughter Maria. Thank you I can't wait for more future books from you. Kimberly Hey, there. And thank you for the kind words. Valeria is paired with Christopher Guzzi, which I think I have stated before – I know it’s listed on my fan page in the albums for the family trees, and it may even be on my website. But yes, you will get her story there. No, we will not see a lot of her past – parts of it, yes, and she will talk about it, b...

AMA - You Ask, Bethany Answers!

Hey, loves! It is that time of the week again where you ask your burning questions, and I do my best to answer them. You all seem to have such an influx of q’s every week for me, which I love. Do you have a question for me? Great. Drop it into the form HERE . Now, onto the questions for the week. *** Please note, the first 3 questions are from Fae. *hugs* 1. Hi :) I firstly just wanted to say that I absolutely love every single thing you have written. I feel like your books have changed my life. Anyway, I'm sorry if this has been asked before, but I couldn't find it, so I just wanted to know, why did you decide to write a book about Naz? Hi there, and thank you. I’m not sure if someone has told me that my books have changed their life before, but all my love to you. My readers make this job 10x better for me, even on the worst days of my career as an author, the readers have always made it better. Keeps me humble, believe that. But onto your question … I honestly didn’t intend...

Tidak Sebaik Musa, Tidak Sejahat Fir'aun

“ Sesungguhnya Allah itu Maha Lembut, Dia mencintai kelembutan dalam segala urusan ” - HR. Bukhari - Sejenak, mari kita kembali ke zaman dahulu kala, kembali pada lembaran sejarah dunia yang dinodai oleh kekafiran seorang Fir’aun. Ya, diktator nomor 1 sepanjang sejarah manusia ini merupakan penguasa sebuah peradaban yang paling maju di dunia saat itu. Harta, tahta, dan dunia seakan keseluruhan adalah miliknya. Tapi memang dasar Fir’aun, ia yang tidak akan pernah merasa puas, Ia yang tak merasa cukup menjadi manusia saja, ia ingin menjadi lebih daripada itu, ia memiliki obsesi untuk melampaui batas-batas kemanusiaan. Ya, ia ingin menjadi TUHAN. “ Kemudian (Fir’aun) berkata, “Akulah tuhanmu yang paling tinggi ”” ( QS. An Naazi’at: 24 ) Dan dengan segala kekuasaan yang ia miliki, ia daulat dirinya sendiri sebagai Rabb semesta alam. Tangan besi Fir’aun yang telah merampas kehormatan ribuan atau mungkin jutaan manusia telah memaksa mereka untuk tunduk patuh secara mutlak kepada titahnya. E...