Langsung ke konten utama

Bercermin pada Generasi Salaf


Sekali-kali tidak akan pernah baik (generasi) akhir ummat ini, melainkan dengan apa yang telah menjadikan generasi awalnya baik
-Imam Malik-
            Di zaman dahulu, kita sering mendengar kisah-kisah mengenai bagaimana orang-orang yang hidup di zaman sebelum kita, para pendahulu kita, adalah orang-orang yang telah menjadi legenda. Nama mereka yang tercatat dalam sejarah sebagai manusia yang telah menorehkan tinta emas di atas lembaran ummat ini.
            Kita mendengar bagaimana besarnya kasih sayang Abu Bakar ash-Shiddiq, keteguhan Umar bin Khattab, kelembutan Utsman bin Affan, dan keberanian Ali bin Abi Thalib –rahimahumullah ajma’in- menjadi sebuah ‘dongeng pengantar tidur’ bagi kita yang hidup di zaman ini. Membayangkan bagaimana pengorbanan dan perjuangan mereka, bagaimana cucuran keringat dan darah mereka, menjadi sebuah tonggak lahirnya sebuah peradaban besar, yang kemudian menjadi sebuah pusaran energi terbesar dalam sejarah manusia. Membayangkan hal-hal besar seperti itu, tentang bagaimana ketulusan Abu Bakar yang menyerahkan seluruh hartanya di jalan Allah, tentang Thalhah bin Ubaidillah yang rela menjadi tameng hidup demi Rasululah shallallahu ‘alaihi wasallam, tentang keluarga Yasir yang menjadi simbol pengorbanan, bagi kita yang hidup di zaman sekarang tampaknya hal itu hanyalah sebuah kisah karangan belaka, sebuah kisah yang dibuat-buat tentang adanya manusia super dari langit. Padahal, mereka yang kita anggap ‘Superman’ itu adalah manusia biasa, yang mampu menembus batas egoisme dalam demi mereka menuju jannah. Mereka yang telah menjadi pendahulu kita adalah sebaik-baiknya generasi, dan bukan sefiksi-fiksinya generasi.

            Pendahuluku Panutanku
            Mari sekarang kita bercermin pada generasi sahabat nabi, dan coba kita bandingkan apa yang telah kita lakukan dan dengan apa yang mereka amalkan. Dan lihatlah betapa jauhnya ummat ini dari kehidupan generasi salafushshalih.
            Kita mengaku sebagai seorang muslim, namun bagaimana perilaku keseharian kita? Sudahkah kita berlaku sebagaimana seorang muslim sejati? Sudahkah kita berkepribadian sebagaimana para sahabat nabi?
            Sadarlah, kita masih belum ada apa-apanya. Kaki kita begitu berat melangkah ke masjid, tangan kita begitu berat melaksanakan kewajiban, mata kita begitu ringan berkeliaran mengumbar syahwat, apakah itu yang telah mereka, generasi pertama, ajarkan?
            Dengan sedikitnya amal kita mengaku telah berkorban, dengan sedikitnya ilmu kita mengaku menjadi orang alim, sedikit berdzikr kita mengaku sebagai orang shalih. Coba bandingkan dengan pengorbanan yang dilakukan Thalhah, menjadi syahid yang hidup demi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Coba bandingkan keilmuan kita dengan luasnya ilmu Ibnu Abbas dan semangatnya menuntut ilmu. Coba lihat bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beribadah hingga kakinya bengkak.
            Kita yang masih belum bersumbangsih apa-apa, yang belum rela menyisihkan waktu untuk menuntut ilmu, yang belum bisa khusyuk dan tunduk dalam beribadah, apakah berhak menyandang predikat khairu ummah? Ummat terbaik?
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.
(QS. Ali Imran: 110)
            Kita yang dengan ringannya mengerjakan kemaksiatan, membuang adab-adab dan menghilangkan kepribadian kita seorang muslim, apakah sanggup menyatakan bahwa kita telah sebaik-baiknya taqwa?
            Bayangkan, bagaimana Abu Lubabah bin Abdul Munzir rela mengikatkan dirinya di tiang masjid Nabawi demi meminta ampun atas maksiatnya. Sedangkan kita, dengan ringannya bermaksiat pada Rabb alam semesta.
            Bayangkan ketika Bilal bin Rabah rela ditindih batu dan sinar matahari yang menyengat demi memperjuangkan kalimat tauhid. Sementara kita, dengan mudahnya meremehkan esensi kalimat tauhid demi dunia fana.
            Bayangkan ketika keluarga Yasir, rela menjual jiwa mereka demi mempertahankan identitas mereka sebagai muslim. Sedangkan kita, dengan gampangnya membuang adab dan kepribadian kita sebagai kaum muslimin.
Penutup
Barangsiapa yang hidup sepeninggalku ia pasti melihat perselisihan yang amat banyak. Hendaklah kalian tetap memegang teguh sunnahku yang kalian ketahui dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang berada diatas petunjuk
(HR. Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Darimi)
Sebaik-baik manusia adalah yang ada pada zamanku, kemudian setelah mereka, kemudian setelah mereka
(HR. Bukhari no.3651, Muslim no.2533)
            Karena itu, sudah saatnya kita sadar. Bahwa langkah kita masih jauh dari kesempurnaan dalam ketaqwaan pada Rabb alam semesta, namun apa salahnya kita mencoba? Bukankah generasi terdahulu kita adalah contoh bagaimana kita hidup di dunia ini? Bukankah mereka adalah realisasi dari syariat? Kalau mereka bisa, mengapa kita tidak? Ini bukan masalah beda zaman, tapi masalah beda mental. Kita yang mentalnya kini lemah oleh dunia, oleh perhiasan mata yang indah, oleh idola-idola fana di mana-mana, sudah seharusnya bangkit dan menjadi insan bermental baja. Bermental rabbani, bermental madani, bermental dan bermanhaj salafushshalih.
            Wallahu a’lam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

AMA - You ask, Bethany Answers!

Hey, loves. It’s that time of the week again where you ask all your burning questions, and I try to answer them as best that I can. Sorry this is a little late today, we had a bad storm and lost power for a bit. Also note: there will be no AMA next week, it's Christmas. ;) Do you have a question for me? Great. Put it in HERE . Now, onto the questions for the week. * 1. Hi, Bethany.1st I like to tell you that I love your books. My question is, will there be a book for Valeria on what she went through with her past and future when she is taken with her daughter Maria. Thank you I can't wait for more future books from you. Kimberly Hey, there. And thank you for the kind words. Valeria is paired with Christopher Guzzi, which I think I have stated before – I know it’s listed on my fan page in the albums for the family trees, and it may even be on my website. But yes, you will get her story there. No, we will not see a lot of her past – parts of it, yes, and she will talk about it, b...

AMA - You Ask, Bethany Answers!

Hey, loves! It is that time of the week again where you ask your burning questions, and I do my best to answer them. You all seem to have such an influx of q’s every week for me, which I love. Do you have a question for me? Great. Drop it into the form HERE . Now, onto the questions for the week. *** Please note, the first 3 questions are from Fae. *hugs* 1. Hi :) I firstly just wanted to say that I absolutely love every single thing you have written. I feel like your books have changed my life. Anyway, I'm sorry if this has been asked before, but I couldn't find it, so I just wanted to know, why did you decide to write a book about Naz? Hi there, and thank you. I’m not sure if someone has told me that my books have changed their life before, but all my love to you. My readers make this job 10x better for me, even on the worst days of my career as an author, the readers have always made it better. Keeps me humble, believe that. But onto your question … I honestly didn’t intend...

Tidak Sebaik Musa, Tidak Sejahat Fir'aun

“ Sesungguhnya Allah itu Maha Lembut, Dia mencintai kelembutan dalam segala urusan ” - HR. Bukhari - Sejenak, mari kita kembali ke zaman dahulu kala, kembali pada lembaran sejarah dunia yang dinodai oleh kekafiran seorang Fir’aun. Ya, diktator nomor 1 sepanjang sejarah manusia ini merupakan penguasa sebuah peradaban yang paling maju di dunia saat itu. Harta, tahta, dan dunia seakan keseluruhan adalah miliknya. Tapi memang dasar Fir’aun, ia yang tidak akan pernah merasa puas, Ia yang tak merasa cukup menjadi manusia saja, ia ingin menjadi lebih daripada itu, ia memiliki obsesi untuk melampaui batas-batas kemanusiaan. Ya, ia ingin menjadi TUHAN. “ Kemudian (Fir’aun) berkata, “Akulah tuhanmu yang paling tinggi ”” ( QS. An Naazi’at: 24 ) Dan dengan segala kekuasaan yang ia miliki, ia daulat dirinya sendiri sebagai Rabb semesta alam. Tangan besi Fir’aun yang telah merampas kehormatan ribuan atau mungkin jutaan manusia telah memaksa mereka untuk tunduk patuh secara mutlak kepada titahnya. E...