Langsung ke konten utama

Untukmu yang Terasingkan


Akan datang suatu zaman kepada manusia di mana orang yang memegang agamanya ibarat orang yang menggenggam bara api
(HR Tirmidzi no. 2140)
Hidup di zaman sekarang memang rasanya sulit. Berjuang di tengah kondisi yang semakin parah, ditambah hegemoni hedonis di seluruh dunia. Menebar fitnah menggoyahkan iman. Membuat satu pertaruhan bagi diri seorang muslim: tetap teguh dalam keIslaman mereka atau tidak.
            Terjebak di antara arus zaman, memang menjadi sebuah pilihan sulit. Ketika dunia berjalan semakin berlawanan arah dengan agama, maka dituntut oleh tiap diri masing-masing untuk ikut memilih, terseret arus atau melawan arus.
           Sebenarnya problematika ini bukanlah terjadi di zaman ini saja, tidak hanya ada pada kondisi sekarang. Ya,semua kisah ini. Kisah antara keterasingan yang Haq dan yang bathil, pertentangan yang benar dan yang salah telah terjadi semenjak yang haq itu ada. Semenjak Adam diciptakan dan Iblis yang inkar kepada Allah masih berada di langit sana. Ketika itu Iblis berkata,

“...Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya...”
(QS. Al-Israa: 62)
Sebuah perkataan dari Iblis yang menyiratkan kesesatan yang akan melanda keturunan Adam, dan ternyata memang benar. Dari generasi pertama umat manusia ini telah terjadi yang demikian, Qabil membunuh Habil. Lalu dari zaman ke zaman, dari peradaban ke peradaban, kesesatan dan kebenaran beradu. Dari zaman Nabi Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, hingga nabi akhir zaman, Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Dan telah kita lihat dalam pentas sejarah dunia. Di mana yang memegang kendali kebanyakan adalah kezhaliman, kenistaan, kebathilan. Yang salah merajalela, yang sesat tersebar ke mana-mana. Masih teringat kepada Namrud, Fir’aun, Qarun, Abu Jahl, dll. Mereka yang memiliki dominasi, mereka yang menginjak kebenaran.
 Sedangkan yang benar entah kedudukannya di mana. Yang benar terasing dalam kesendirian. Nabi Nuh berdakwah hingga umurnya 950 tahun tapi pendukungnya tidak lebih dari 50 orang, Nabi Ibrahim yang harus memasuki negeri kafir sendirian bersama isterinya, Nabi Musa yang kebanyakan pengikutnya adalah mantan budak-budak Fir’aun, Nabi Isa yang murid setianya hanya 12 orang, dan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang di awal dakwahnya hanya berhasil menghimpun keluarga, sedikit kerabat, dan kebanyakan adalah orang-orang lemah.
Ya, syariat yang dikenal asing dan pengikutnya juga adalah orang-orang yang terasing, memang pahit. Tapi tidakkah kita ingat bahwa ternyata yang asing itulah yang menang? Mereka yang terasinglah yang tidak tenggelam ketika banjir besar, ia yang terasinglah yang tidak mempan dibakar, mereka yang terasinglah yang terbebas dari belenggu kediktatoran, mereka yang terasinglah yang berhasil menang menguasai sepertiga bola dunia.
Mengapa hal itu bisa terjadi? Bukankah Iblis telah menyesatkan keturunan Adam? Tunggu, bukankah ayat tadi masih ada lanjutannya?
“...kecuali sebagian kecil”
(QS. Al-Israa: 62)
Sebagian kecil yang tidak disesatkan, tapi sebagian kecil itulah yang menang. Bahkan Syaikhul Islam Ibn Taimiyah berkata,
Termasuk sunnatullah, apabila Dia ingin menampakkan agama-Nya, maka dia membangkitkan para penentang agama, sehingga Dia akan memenangkan kebenaran dan melenyapkan kebatilan, karena kebatilan itu pasti akan hancur binasa.
(Ibn Taimiyah, Majmu’ Fatawa 28/57)
Ya, kondisi terasing memang begitu sulit. Namun bukan berarti cahaya kebenaran ini akan padam kan?
Kebenaran itu akan menang dan mendapat ujian. Janganlah heran, sebab ini adalah sunnah Ar-Rahman
(Ibnul Qayyim al-Jauziyah, dalam kitab al-Kafiyah asy-Syafiyah)
Ya, yang perlu kita lakukan adalah mengatasi ujian itu. Ujian yang membuat orang-orang asing ini kuat menghadapi zaman, ujian yang membuat agama ini  makin nampak kebenarannya, ujian yang membuat ummat ini menjadi besar.
Ingatlah, bahwa sesungguhnya keterasingan dan kesendirian ini tidaklah berat, karena suatu saat kesendirian ini akan terbayar dengan kemenangan dan keberuntungan.
Pada awalnya Islam itu asing dan Islam akan kembali asing sebagaimana pada awalnya. Sungguh beruntunglah orang-orang yang asing
(HR Muslim no. 389)
Kesendirian yang pahit, keterasingan yang sengsara, niscaya akan terbayar dengan surga, insya Allah.
...penghuni-penghuni jannah itulah orang-orang yang beruntung
(QS. Al-Hasyr: 20)
Wallahu a’lam.
Penulis: Jundullah Abdurrahman Askarillah. Bogor, 4 Juli 2011

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kupas Tuntas Hukum Shalat Berjama'ah di Masjid

            Semenjak kecil, kita sudah tahu bahwa shalat berjama’ah di masjid adalah salah satu bentuk ibadah yang sangat ditekankan oleh Islam melalui dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Banyak ummat Islam yang mengerjakan shalat berjama’ah karena ingin mendapatkan pahala dan semangat besar untuk beramal shalih. Memburu pahala dan menginginkan ridhaNya sekaligus mempererat tali ukhuwah Islamiya menjadi salah satu faktor terbesar untuk shalat berjama’ah di masjid Tetapi ternyata banyak yang masih belum tau bagaimana sebenarnya hukum dari shalat berjama’ah itu sendiri. Bagaimana sebenarnya para ulama menjelaskan mengenai hukum shalat berjama’ah di masjid, baik laki-laki maupun perempuan. Ustad A bilang itu wajib, kalau gak jama’ah di masjid gak sah shalatnya, Kiai B bilang itu sunnah saja. Jadi, mana yang benar?             Khilaf di Antara Para Ulama   ...

Kupas Tuntas: Adakah Bid'ah Hasanah?

“Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, namun tidak mendapatkannya” - HR. Ad Darimi , atsar Abdullah bin Mas’ud- Oleh: Ustadz Syariful Mahya Lubis, Lc.* Sejumlah jawaban direkayasa, sejumlah dalilpun dipaksakan, demi melegalkan bid’ah, dan demi memberanikan orang melakukannya. Pertanyaan tersebut terkait langsung dengan Islam, yang oleh karenanya membutuhkan jawaban yang merujuk kepada Al Qur’an dan Hadits sebagai sumber kebenaran dalam Islam, jawaban-jawaban yang hanya bersifat logika, tidak akan dapat menguak kebenaran dalam permasalahan Islam. Sebab selogis apapun sebuah jawaban tetap saja ia spekulasi relatif, yang sudah pasti dapat dipatahkan dengan hal yang sama, lebih-lebih apabila jawaban-jawaban logis tadi kontaradiktif dengan dalil-dalil yang syar’i. Definisi Nabi ï·º bersabda, “ Siapapun yang melakukan amal yang tidak kami perintahkan , maka amal tersebut tertolak (tidak diterima)” ( HR. Bukhari dan Muslim , dari ‘Aisyah) . Beliau juga bersabda, “ Setiap (ibadah) y...

Lebaran Ikut Siapa?

Permasalahan ini sering muncul dari berbagai pihak ketika menghadapi hari Arofah. Ketika para jama’ah haji sudah wukuf tanggal 9 Dzulhijah di Saudi Arabia, padahal di Indonesia masih tanggal 8 Dzulhijah, mana yang harus diikuti dalam puasa Arofah? Apakah ikut waktu jama’ah haji wukuf atau ikut penanggalan Hijriyah di negeri ini sehingga puasa Arofah tidak bertepatan dengan wukuf di Arofah? Syaikh Muhammad bin Shalih ‘Utsaimin pernah diajukan pertanyaan: Kami khususnya dalam puasa Ramadhan mubarok dan puasa hari Arofah, di antara saudara-saudara kami di sini terpecah menjadi tiga pendapat. Pendapat pertama : kami berpuasa bersama Saudi Arabia dan juga berhari Raya bersama Saudi Arabia. Pendapat kedua : kami berpuasa bersama negeri kami tinggal dan juga berhari raya bersama negeri kami.    Pendapat ketiga : kami berpuasa Ramadhan bersama negeri kami tinggal, namun untuk puasa Arofah kami mengikuti Saudi Arabia. Kami mengharapkan jawaban yang memuaskan mengenai puasa bulan Ram...