Langsung ke konten utama

WIP Wednesday: Dirty Pool #MichelandGabbie

Hey, loves!

I technically finished Gabbie and Michel's book today, but for the smexy scenes as I like to leave those for last and to do them on their own day, but since today is Wednesday, I figured ... well, one last WIP Wednesday for them would be fine, right?

Do enjoy.

***

“What good would it do me to tell you to stay away from the lad, hmm?” her father demanded sharply. “I think I have said more than enough over the last several months since you’ve run around with the prick that it’s clear I don’t approve. But whatever it is, you’re determined to see it through, so I might as well let you get it out of your system now before reality comes to wake you up.”
‘What does that even mean?”
Charles scrubbed a hand down his face. “You’ll learn in time. As I intend.”
“I—”
“And as for that Italian fecker,” her father continued, “he needs to pick a side, Gabbie. If he wants to entertain the Italians in the daytime, and then shift with my daughter in the shadows when no one is looking, then a man can’t trust him, can we? A lad like that … his mind is too sharp, lass. They had to know what he was doing, and then he can decide what he really wants to do. I know where he comes from, and you have to watch him like it, too. I need him to know that I am aware of his choices, and he has others to consider now.”
“Are you giving him the option, then? Them, or us?”
Charles arched a brow. “It isn’t that deep, sweetheart. You don’t have to understand when all I want you to do is follow along.”
Wasn’t it that deep?
She thought so.
“Follow along with what?”
Charles waved a hand at her, and she knew what that meant without him actually telling her. A dismissal. He was done with their discussion, and she was quite aware how that worked with her father. Once he was done, he was finished. No amount of her prodding or pressing would get more from him.
“I have men to deal with,” he told her. “And you haven’t checked your sugars since this afternoon. Go do that now.”
“My sugars are fine!”
Do it.”
She wasn’t a child.
She still felt like it sometimes.
Charles gestured at the ground of lads that had attended the meeting, too, and were now waiting in the hallway just beyond Gabbie. Without waiting for her to really move out of their way, they pressed past her in the tight quarters, not even bothering to excuse themselves or pass her a second glance.
She wasn’t important.
Dismissed.
“Da—”
“Go, but not too far because I expect to speak with you again later,” her father ordered one last time. Then, to the men in the office, he added, “They never intended to settle, lads. That much is clear. We won’t act … yet. We’ll wait and see what they do first, aye, and then we’ll make the hard choices.”
Charles shut the door in Gabbie’s face, essentially leaving her alone in the hallway. It was amazing to her how she could feel so many things all at once. Anger warred with her disbelief and astonishment. Panic swelled in her heart, swirling with anxiety and sadness.
Did it really have to be like this?
What did that mean for her?
For Michel?
For them?
She didn’t know, and she didn’t like it. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tidak Sebaik Musa, Tidak Sejahat Fir'aun

“ Sesungguhnya Allah itu Maha Lembut, Dia mencintai kelembutan dalam segala urusan ” - HR. Bukhari - Sejenak, mari kita kembali ke zaman dahulu kala, kembali pada lembaran sejarah dunia yang dinodai oleh kekafiran seorang Fir’aun. Ya, diktator nomor 1 sepanjang sejarah manusia ini merupakan penguasa sebuah peradaban yang paling maju di dunia saat itu. Harta, tahta, dan dunia seakan keseluruhan adalah miliknya. Tapi memang dasar Fir’aun, ia yang tidak akan pernah merasa puas, Ia yang tak merasa cukup menjadi manusia saja, ia ingin menjadi lebih daripada itu, ia memiliki obsesi untuk melampaui batas-batas kemanusiaan. Ya, ia ingin menjadi TUHAN. “ Kemudian (Fir’aun) berkata, “Akulah tuhanmu yang paling tinggi ”” ( QS. An Naazi’at: 24 ) Dan dengan segala kekuasaan yang ia miliki, ia daulat dirinya sendiri sebagai Rabb semesta alam. Tangan besi Fir’aun yang telah merampas kehormatan ribuan atau mungkin jutaan manusia telah memaksa mereka untuk tunduk patuh secara mutlak kepada titahnya. E...

Kupas Tuntas: Adakah Bid'ah Hasanah?

“Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, namun tidak mendapatkannya” - HR. Ad Darimi , atsar Abdullah bin Mas’ud- Oleh: Ustadz Syariful Mahya Lubis, Lc.* Sejumlah jawaban direkayasa, sejumlah dalilpun dipaksakan, demi melegalkan bid’ah, dan demi memberanikan orang melakukannya. Pertanyaan tersebut terkait langsung dengan Islam, yang oleh karenanya membutuhkan jawaban yang merujuk kepada Al Qur’an dan Hadits sebagai sumber kebenaran dalam Islam, jawaban-jawaban yang hanya bersifat logika, tidak akan dapat menguak kebenaran dalam permasalahan Islam. Sebab selogis apapun sebuah jawaban tetap saja ia spekulasi relatif, yang sudah pasti dapat dipatahkan dengan hal yang sama, lebih-lebih apabila jawaban-jawaban logis tadi kontaradiktif dengan dalil-dalil yang syar’i. Definisi Nabi ï·º bersabda, “ Siapapun yang melakukan amal yang tidak kami perintahkan , maka amal tersebut tertolak (tidak diterima)” ( HR. Bukhari dan Muslim , dari ‘Aisyah) . Beliau juga bersabda, “ Setiap (ibadah) y...

Mulia Sebagai Seorang Muslim

“Ketahuilah, kita adalah kaum yang paling hina, lalu Allah memuliakan dengan mendatangkan agama Islam. Karena itu jika kita mencari kemuliaan dengan selain Islam, maka Dia akan menghinakan kita” -Umar bin Khattab, Lihat dalam Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah - Umar bin Khaththab namanya. Ia adalah orang yang telah meruntuhkan Kerajaan Kisra Persia dan juga telah menghapus hegemoni Kaisar Romawi –dengan izin Allah-. Ia seorang penguasa Islam dengan kesahajaannya yang memukau. Ya, Ia yang dengan tenang tidur di bawah pohon kurma di Kota Madinah sementara penguasa lain tidur di atas kemewahan, ia yang memakai pakaian tenun sederhana sementara penguasa lain memakai pakaian bertahtakan permata.  Dan kini, Ia sedang berjalan menuju Syam dalam rangka penyerahan Baitul Maqdis kepada kaum muslimin. Dalam perjalanan itu ia sempat melewati sebuah sungai. tidak disangka, ia langsung turun, mengalungkan sepatunya, dan menuntun sendiri untanya! Ketika penguasa lain yang telah merasa tinggi deng...