Langsung ke konten utama

Postingan

Sabar Dalam Berdakwah

  Syawwal, 3 tahun sebelum hijrah. Dua orang berjalan 60 mil dari Makkah menuju Tha’if. Mereka berdua berjalan kaki, berdebu di jalan Allah, demi menyampaikan risalah kebenaran. Tatkala sampai di Thaif, mereka berdua mendatangi tiga orang pemuka kabilah Tsaqif: Abd Yala’il, Mas’ud, dan Habib. Ketiganya putera Amr bin Umair Ats Tsaqafi. Kepada mereka bertiga disampaikanlah ajakan untuk memeluk Islam lewat lisan paling mulia. Tapi, jangankan sambutan atau balasan yang hangat dan damai, yang diterima oleh pendakwah ini malah makian dan cacian.     Salah seorang dari mereka berkata, “ Jika Allah benar-benar mengutusmu, maka Dia akan merobek-robek pakaian Ka’bah ”     Seorang yang lain menimpali, “ Apakah Allah tidak menemukan orang lain selain dirimu? ”     Orang terakhir tidak mau kalah, “ Demi Allah! Aku sekali-kali tidak akan mau berbicara denganmu! Jika memang engkau seorang rasul, sungguh engkau terlalu agung untuk dibantah ucapanmu dan...

Terimalah Kebenaran dari Manapun Asalnya

Ambillah hikmah dari orang yang kamu dengar. Sungguh, ada orang yang berkata dengan hikmah padahal dia bukan ahli hikmah, sehingga hikmah yang diucapkannya itu laksana anak panah yang dilontarkan oleh seseorang yang bukan pemanah -Abdullah bin Abbas, Shifatush Shafwah I/757- “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menugaskanku untuk menjaga zakat Ramadhan. Tiba-tiba seseorang datang. Mulailah ia mengutil makanan zakat tersebut. Aku pun menangkap seraya mengancamnya, “ Sungguh aku akan membawamu ke hadapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk aku adukan perbuatanmu ini kepada beliau .” Orang yang mencuri itu berkata, “ Aku butuh makanan sementara aku memiliki banyak tanggungan keluarga. Aku ditimpa kebutuhan yg sangat .” Karena alasan tersebut aku melepaskannya. Di pagi hari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya: “ Wahai Abu Hurairah apa yang diperbuat tawananmu semalam? ”, “ Wahai Rasulullah ia mengeluh punya kebutuhan yang sangat dan punya tanggungan keluarga. Aku pu...

i-Muslims, Untaian Mutiara Kata Penuh Hikmah

Maka jika kamu tetap ingin berteladan , maka ambillah contoh dari yang telah mati, sebab yang masih hidup tidak aman dari fitnah -Abdullah bin Mas’ud, Al Lalaikai 1/93 no. 130 dan Al-Haitsamy dalam Al Majma’ 1/180- Tantangan dakwah di masa kini tampaknya semakin berat. Terlihat betapa banyak orang yang jiwanya gersang dengan siraman nasihat dan pencerahan rohani sehingga membuahkan pribadi yang buruk akhlaknya. Berbagai macam metode berdakwah pun terus dikembangkan agar semakin mampu diterima oleh masyarakat. Mulai dari rekaman kajian, audiovisual, radio, majalah, dan sebagainya.      Tapi kini, -alhamdulillah, dengan izin Allah- telah hadir sebuah cara baru untuk memasyarakatkan petuah-petuah dan untaian mutiara kata dari Qur’an, Hadits, dan kalam ulama salaf di tengah masyarakat yang tampaknya berjiwa gersang. Kini telah hadir blog yang berusaha menyegarkan jiwa kita dengan mutiara kata yang bisa memberikan inspirasi bagi kita. Blog yang dimaksud adalah i-Muslims...

Hikmah Diciptakannya Malaikat Meski Allah Tahu Segalanya

Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu) -QS. Al Infithaar (82): 10- Allah menciptakan seluruh makhluk dalam keadaan berbagai rupa. Ada manusia, bumi, bintang, pohon, gunung, binatang, dan lain-lain. Lalu ada satu makhluk yang Allah ciptakan dari cahaya, yang selalu taat kepada Allah dan tidak pernah bermaksiat kepadaNya yaitu malaikat. Malaikat-malaikat yang Allah ciptakan ini tentu memiliki tugas, dan satu diantaranya adalah mencatat amal perbuatan manusia. Namun, ada beberapa orang yang mungkin heran dan memiliki pertanyaan, “untuk apa para malaikat itu diciptakan? Bukankah Allah telah mengetahui seluruhnya?” Untuk menjawab pertanyaan ini, silakan simak penjelasan persoalan ini lewat fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah yang kami nukil dari Majalah Fatawa yang diterbitkan oleh Pustaka at-Turots, Islamic Centre Bin Baz, Bantul, Yogyakarta. Pertanyaan:            “Apakah hikma...

Membantah Kesesatan Tapi Disebut Perpecahan

Jalan kebenaran itu jauh dan bersabar bersama kebenaran itu berat - Mimsyad Ad Dainuri , Shifatush Shafwah IV/78- Ketika berusaha meluruskan umat dari firqah-firqah sesat maka tak jarang kita disebut sebagai pengadu domba. Ketika berusaha untuk membantah pengikut hawa nafsu dan pengekor kesesatan lainnya maka kita bisa disebut pemecah belah ummat. Kita bilang A sesat, maka orang bilang kita tidak mau Islam bersatu dalam satu jama’ah. Padahal, layakkah kebenaran bersatu dengan kesesatan? Pantaskah yang haq disatukan dengan yang batil? Jelas tidak. Pemikiran-pemikiran yang ingin agar kita tidak meluruskan ummat dengan berdalih untuk menyatukan umat inilah pemikiran yang salah. Yang menghendaki agar terciptanya generasi yang dangkal ilmunya. Mengatasnamakan toleransi inter agama atau perbedaan fiqh dan madzhab. Padahal, telah nyata yang disebut sesat adalah dalam hal aqidah. Jika aqidahnya telah melenceng maka berarti sudah berbeda jalan dengan kebenaran. Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahu...

Adakah Doa dan Dzikir Ketika Membasuh Anggota Wudhu?

          Suci dari najis dan kotoran adalah salah satu syarat sah ketika hendak melaksanakan shalat atau mungkin ibadah lain. Dan untuk itu kita harus berwudhu untuk bersuci. Namun sayang, ternyata masih banyak diantara kaum muslimin yang melakukan kesalahan dalam wudhu mereka. Diantara kesalahan yang mereka lakukan adalah berdoa pada saat membasuh anggota wudhu.      Hal ini sering dianggap sunnah oleh banyak orang sehingga mereka tanpa ragu melaksanakannya. Mereka menganggap hal itu ibadah padahal hal itu adalah suatu kesalahan yang bisa jatuh ke dalam perbuatan bid’ah. Sebenarnya orang-orang yang berdoa ketika membasuh anggota wudhu memiliki alasan mengapa mereka melakukan itu, yaitu karena mereka mengaku memiliki hadits sebagai landasan untuk melakukannya. Hadits yang mereka jadikan hujjah adalah hadits dari Anas yang berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,       ...