Langsung ke konten utama

Membantah Kesesatan Tapi Disebut Perpecahan

Jalan kebenaran itu jauh dan bersabar bersama kebenaran itu berat
-Mimsyad Ad Dainuri, Shifatush Shafwah IV/78-
Ketika berusaha meluruskan umat dari firqah-firqah sesat maka tak jarang kita disebut sebagai pengadu domba. Ketika berusaha untuk membantah pengikut hawa nafsu dan pengekor kesesatan lainnya maka kita bisa disebut pemecah belah ummat. Kita bilang A sesat, maka orang bilang kita tidak mau Islam bersatu dalam satu jama’ah.
Padahal, layakkah kebenaran bersatu dengan kesesatan? Pantaskah yang haq disatukan dengan yang batil? Jelas tidak. Pemikiran-pemikiran yang ingin agar kita tidak meluruskan ummat dengan berdalih untuk menyatukan umat inilah pemikiran yang salah. Yang menghendaki agar terciptanya generasi yang dangkal ilmunya. Mengatasnamakan toleransi inter agama atau perbedaan fiqh dan madzhab.

Padahal, telah nyata yang disebut sesat adalah dalam hal aqidah. Jika aqidahnya telah melenceng maka berarti sudah berbeda jalan dengan kebenaran.
Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan tentang orang yang membantah ahlul bid’ah namun dikatakan pemecah belah ummat: Benar, mereka itu adalah penyebab perpecahan (yakni yang membedakan dan memisahkan, pent) antara yang haq dengan yang batil, ini yang benar.
Kami membedakan/memisahkan antara yang haq dengan yang bathil, antara ahlul haq dengan ahlul bathil. Senantiasa kami akan membantah (kebatilan dan para pelakunya), demikian pula para ulama juga membantah mereka.
Yang seperti ini bukanlah untuk membikin perpecahan, akan tetapi justru ini untuk menyatukan umat di atas al-haq. Karena keberadaan umat manusia di atas kesesatan dan di atas pemikiran-pemikiran yang batil, inilah sesunggguhnya yang menyebabkan perpecahan antar umat Islam.
Adapun upaya untuk menjelaskan al-haq kepada mereka (umat Islam) adalah dalam rangka menyatukan umat di atasnya, maka inilah sesungguhnya dakwah kepada persatuan, bukan dakwah kepada perpecahan.
Dikatakan dakwah kepada perpecahan itu apabila tidak ada upaya untuk membantah ahlul bathil. Inilah sesungguhnya dakwah kepada perpecahan jika mereka memahaminya.
(Dari Ta’liq terhadap kitab Syarhus Sunnah, karya Al-Imam Al-Barbahari)
Rujukan: Salafy.or.id
Bogor, 11 Desember 2011
Artikel Cafe Sejenak

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kupas Tuntas Hukum Shalat Berjama'ah di Masjid

            Semenjak kecil, kita sudah tahu bahwa shalat berjama’ah di masjid adalah salah satu bentuk ibadah yang sangat ditekankan oleh Islam melalui dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Banyak ummat Islam yang mengerjakan shalat berjama’ah karena ingin mendapatkan pahala dan semangat besar untuk beramal shalih. Memburu pahala dan menginginkan ridhaNya sekaligus mempererat tali ukhuwah Islamiya menjadi salah satu faktor terbesar untuk shalat berjama’ah di masjid Tetapi ternyata banyak yang masih belum tau bagaimana sebenarnya hukum dari shalat berjama’ah itu sendiri. Bagaimana sebenarnya para ulama menjelaskan mengenai hukum shalat berjama’ah di masjid, baik laki-laki maupun perempuan. Ustad A bilang itu wajib, kalau gak jama’ah di masjid gak sah shalatnya, Kiai B bilang itu sunnah saja. Jadi, mana yang benar?             Khilaf di Antara Para Ulama   ...

Bid'ah Hasanah

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasulnya… QS al-Hujuraat: 1 Suatu hari saya pernah ditanyai oleh seseorang. Dan uniknya, yang bertanya kepada saya ini adalah seorang wanita yang saya pun baru mengenalnya. Pertanyaan yang dia ajukan pun tergolong aneh karena masih dalam tahap perkenalan. Saat itu, dia langsung bertanya kepada saya,             “Kamu masih suka ikut mauludan, gak?”             Sebuah pertanyaan yang ‘berbau’ agama rupanya. Dan sekarang, mungkin saya akan menjawab hal itu dengan lengkap:             Saya jawab pertanyaan itu dengan kalimat, “Ya”. Kenapa? Karena sampai saat ini, dalam berbagai acara mauludan yang pernah saya alami, saya hanya punya dua pilihan: Ikut atau tidak absen. Karena itu saya memilih ikut (mengingat kapasitas saya sebagai seorang pelajar biasa). Dan ket...

Kupas Tuntas: Adakah Bid'ah Hasanah?

“Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, namun tidak mendapatkannya” - HR. Ad Darimi , atsar Abdullah bin Mas’ud- Oleh: Ustadz Syariful Mahya Lubis, Lc.* Sejumlah jawaban direkayasa, sejumlah dalilpun dipaksakan, demi melegalkan bid’ah, dan demi memberanikan orang melakukannya. Pertanyaan tersebut terkait langsung dengan Islam, yang oleh karenanya membutuhkan jawaban yang merujuk kepada Al Qur’an dan Hadits sebagai sumber kebenaran dalam Islam, jawaban-jawaban yang hanya bersifat logika, tidak akan dapat menguak kebenaran dalam permasalahan Islam. Sebab selogis apapun sebuah jawaban tetap saja ia spekulasi relatif, yang sudah pasti dapat dipatahkan dengan hal yang sama, lebih-lebih apabila jawaban-jawaban logis tadi kontaradiktif dengan dalil-dalil yang syar’i. Definisi Nabi ï·º bersabda, “ Siapapun yang melakukan amal yang tidak kami perintahkan , maka amal tersebut tertolak (tidak diterima)” ( HR. Bukhari dan Muslim , dari ‘Aisyah) . Beliau juga bersabda, “ Setiap (ibadah) y...