Langsung ke konten utama

Love: the True Story


Kuhancurkan tulang-tulangku, tetapi aku tidak membuangnya sampai aku mendengar suara cinta memanggilku dan melihat jiwaku siap untuk berpetualang
-Kahlil Gibran-
Apa yang pertama kali anda rasakan ketika anda mendengar kata “cinta”? bagaimana perasaan anda setelah mendengar kata itu? Apakah hati anda berdesir atau mungkin hati anda mengharu biru? Mungkin banyak anggapan tentang tema kali ini. Mungkin ada yang menganggap saya sedang jatuh cinta, atau mungkin menganggap bahwa saya adalah orang yang melankolis. Ya, mungkin anggapan-anggapan aneh dan tidak berdasar itu saya hadapi dengan tegar. Namun, ada apa dengan cinta? (ini bukan meniru nama film. Tapi ini adalah satu pertanyaan yang realistis dan harus dijawab)
            Cinta adalah perasaan dasar setiap manusia. Bukan begitu? Bukankah seluruh orang pernah merasakan yang namanya cinta? Bukankah setiap orang butuh kehangatan pihak lain dengan cinta?
            Saya tidak akan membahas tentang cinta yang diartikan sempit oleh banyak orang. Dan saya membahas cinta bukan berarti saya sedang jatuh cinta atau melankolis, atau yang lainnya. Yang jelas, saya memaparkan hal ini karena hampir seluruh orang membuat masalah dan menjadikan cinta sebagai dasar perbuatannya. Apakah hal itu benar?
            Saya sering bingung dengan orang-orang yang kehidupannya di dunia ini seakan-alan terus-terusan menggantung akibat cinta. Mereka memandang cinta dengan sebelah mata. Apa maksudnya? Mereka melihat cinta sebagai sesuatu yang ditangisi, diratapi, dan lika-liku cinta seakan-akan menjadikan dirinya sengsara. Sudah berapa banyak lagu yang dibuat dengan tema menangisi cinta.
Cinta itu buta
            Memang, sebenarnya mengapa cinta itu ditangisi karena berbagai alasan klasik, cinta ditolak, dikhianati, sudah tidak setia, dan alasan-alasan lainnya. Dan memang jika ada pepatah yang mengatakan bahwa “cinta itu buta” itu karena cinta itu tidak mengenal siapa saja mungkin itu benar. Namun, saya tidak lebih suka menyebut demikian.
            Jika ada yang menyebut bahwa cinta itu buta, maka saya lebih suka menyatakan bahwa cinta itu membuat dan mengajarkan kita untuk melihat dunia ini dengan indah. Cinta mengajarkan bahwa kita harus melihat dunia ini dengan cara yang lebih baik. Coba bayangkan jika tidak ada cinta, maka bagaimana kita bisa hidup di dunia ini dengan seperti ini. Ya, cinta adalah anugerah dan karunia Allah kepada manusia. Tidak perlu kita tangisi, tidak perlu kita ratapi. Yang kita lakukan adalah menggunakan perasaan yang diberikan Allah ini dengan sebaik-baiknya.
            Patah Hati?
            Jika ada orang yang patah hati maka mudah untuk menebak alasannya. Mungkin karena putus sama pacar, cinta segitiga, dikhianati oleh pasangannya, tidak setia, perselingkuhan, dll. Dan akhir serta komplikasi patah hati itu juga sudah bisa diterka. Mungkin bisa depresi, stress, putus asa, bahkan hingga bunuh diri.
            Sebenarnya bagi yang patah hati lalu melakukan atau merasakan hal-hal yang sejenis dengan diatas, maka sudah seharusnya sadar. Bahwa sesungguhnya hidup ini tidak akan berakhir hanya karena cinta anda kepada orang lain itu berakhir, dunia ini tidak akan hancur hanya karena hati anda hancur.
            Dan yang paling penting untuk kita semua sadari adalah bahwa jangan sampai hanya karena cinta kita kepada seseorang itu ditolak lalu anda menutup perasaan anda. Yang harusnya kita sadari adalah, bahwa ternyata di sekeliling kita masih banyak yang mencintai kita. Kita sering melupakan dan menutup mata untuk mengerti bagaimana besarnya cinta orang lain kepada kita hanya karena cinta kita kepada satu orang. Kita jarang menyadari betapa besar cintanya orang tua kita kepada kita, kita sering melupakan bagaimana besarnya cinta keluarga kita kepada kita, kita sering lupa bagaimana cintanya teman-teman dan sahabat-sahabat kita kepada diri kita.
Kita terlalu sering melupakan besarnya cinta keluarga, sahabat, dan lingkungan di sekitar kita kepada kita hanya karena mengejar cinta seseorang yang belum tentu mencintai anda.
            Karena itu, sudah seharusnya kita lebih membuka mata kita. Dan jangan sekali-kali melihat cinta dengan sempit. Karena sesungguhnya cinta itu luas.
            Wallahu a’lam

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kupas Tuntas: Adakah Bid'ah Hasanah?

“Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, namun tidak mendapatkannya” - HR. Ad Darimi , atsar Abdullah bin Mas’ud- Oleh: Ustadz Syariful Mahya Lubis, Lc.* Sejumlah jawaban direkayasa, sejumlah dalilpun dipaksakan, demi melegalkan bid’ah, dan demi memberanikan orang melakukannya. Pertanyaan tersebut terkait langsung dengan Islam, yang oleh karenanya membutuhkan jawaban yang merujuk kepada Al Qur’an dan Hadits sebagai sumber kebenaran dalam Islam, jawaban-jawaban yang hanya bersifat logika, tidak akan dapat menguak kebenaran dalam permasalahan Islam. Sebab selogis apapun sebuah jawaban tetap saja ia spekulasi relatif, yang sudah pasti dapat dipatahkan dengan hal yang sama, lebih-lebih apabila jawaban-jawaban logis tadi kontaradiktif dengan dalil-dalil yang syar’i. Definisi Nabi ï·º bersabda, “ Siapapun yang melakukan amal yang tidak kami perintahkan , maka amal tersebut tertolak (tidak diterima)” ( HR. Bukhari dan Muslim , dari ‘Aisyah) . Beliau juga bersabda, “ Setiap (ibadah) y...

Kupas Tuntas Hukum Shalat Berjama'ah di Masjid

            Semenjak kecil, kita sudah tahu bahwa shalat berjama’ah di masjid adalah salah satu bentuk ibadah yang sangat ditekankan oleh Islam melalui dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Banyak ummat Islam yang mengerjakan shalat berjama’ah karena ingin mendapatkan pahala dan semangat besar untuk beramal shalih. Memburu pahala dan menginginkan ridhaNya sekaligus mempererat tali ukhuwah Islamiya menjadi salah satu faktor terbesar untuk shalat berjama’ah di masjid Tetapi ternyata banyak yang masih belum tau bagaimana sebenarnya hukum dari shalat berjama’ah itu sendiri. Bagaimana sebenarnya para ulama menjelaskan mengenai hukum shalat berjama’ah di masjid, baik laki-laki maupun perempuan. Ustad A bilang itu wajib, kalau gak jama’ah di masjid gak sah shalatnya, Kiai B bilang itu sunnah saja. Jadi, mana yang benar?             Khilaf di Antara Para Ulama   ...

Api Generasi Mulia Islam

Sesungguhnya kita adalah saudara seiman, seagama, senasib dan seperjuangan. Agama yang kita anut ini adalah agama yang terus diperjuangkan dan dijunjung tinggi dengan darah, keringat, harta, dan air mata dari para pendahulu kita. Dan sekarang, urusan agama ini akhirnya berada di tangan kita, di tangan generasi penerus kaum muslimin. Api yang terus menyala selama berabad-abad lamanya sekarang tiba di tangan kita. Akankah kita menambah nyala apinya? Atau sebaliknya, apakah kita akan memadamkannya? Urusan agama ini bukanlah urusan manusia, tetapi urusan ini adalah urusan seluruh manusia yang mengaku beriman kepada-Nya. Ya, laksana api, agama ini telah menerangi dunia ini dengan cahaya dan kehangatannya. Api ini terus bergulir dari generasi ke generasi. Api ini telah hinggap di tangan orang-orang biasa. Namun, ternyata setelah memegang kuat agama ini, orang-orang biasa tadi ternyata berubah menjadi manusia-manusia yang luar biasa. Dengan agama ini, manusia-manusia biasa bisa menjadi manusi...