Langsung ke konten utama

Pemuda: dari Mental Tempe Sampai Bebas Menembus Batas


Jika diibaratkan, maka pemuda layaknya email sedangkan generasi tua adalah surat biasa. Apa maknanya? Jika dilihat, maka pemuda cenderung lebih bergerak dinamis dan energik. Pemuda jauh lebih aktif dan bergelora. Wajar saja, darah muda memang terkenal dengan semangat mudanya yang menggelora. Namun, di sisi lain ternyata semangat muda itu malah memusnahkan dan membakar kebaikan-kebaikan dan kesempatan emas untuk bangkit dan menjadi generasi gemilang.
            Ya, pemuda adalah pewaris generasi yang selanjutnya. Di tangan pemudalah amanah ini dipikulkan. Namun, bagaimana pemuda mampu menjalankannya jika kondisi pemuda masih terus-terusan seperti yang kita lihat sana-sini. Apakah hal itu adalah sosok pemuda yang diharapkan?
            Mental Tempe
            Kata-kata guru Bahasa Sunda saya ketika di SMA begitu terngiang-ngiang di kepala saya.

            Pemuda sekarang adalah pemuda yang bermental tempe! Lembek! Pemuda macam apa itu?! Pemuda harus punya semangat sebagai pemuda! Tidak ada laut yang tidak diseberangi! Tidak ada gunung yang tidak didaki! Tidak ada hutan yang tidak dilalui!

            Kira-kira itu yang saya tangkap dari beliau. Dan memang, saya tetap mengingat kata-kata beliau. Entah karena memang penuh makna atau karena sering dijadikan bahan ejekan. Tapi yang pasti, saya sangat menyukainya. Dan apalagi setelah saya melihat realitasnya.
            Pemuda saat ini kebanyakan menjadi remaja yang cengeng dan lembek.
            Cengeng Jika Berbicara Cinta
            Mungkin ini yang menjadi induk masalahnya. Cengeng dengan masalah cinta. Lihat saja. Sudah berapa banyak lagu yang dikarang demi menangisi cinta, dengan irama yang memilukan hati, dan bumbu-bumbu lain yang menambah pilu. Belum lagi dengan fenomena putus cinta atau patah hati yang bisa membuat remaja kacau balau, putus asa dan putus harapan, atau bahkan bunuh diri.
            Lain lagi dengan pemuda yang cintanya diterima atau mungkin sedang jatuh cinta. Maka dengan cepat pikirannya hanya akan tertuju kepada pasangan pujaannya. Ketika berjalan membayangkan wajah ‘si doi’, kalau duduk mikirin ‘si dia’ lagi, kalau mau tidur ngebayangin jantung hati pujaannya. Seakan-akan kehidupannya diabdikan hanya untuk menyembah cinta kepada pasangannya. Apakah hal itu benar? Tentu salah! Bagaimana bisa menyelesaikan masalah kalau pikiran sendiri hanya tertuju pada satu titik saja? Tidak mungkin!
            Hilang Arah
            Remaja saat ini sepertinya hilang arah. Entah kenapa, mungkin karena lagu ‘Mau dibawa kemana’-nya Armada atau alasan yang lainnya. Tapi memang kondisi remaja saat ini menyisakan pertanyaan besar. “Mau dibawa ke mana?”.
            Di tengah era digital yang menghasilkan berbagai penyimpangan dan pemikiran serta ideologi ngawur, belum lagi ditambah dengan beban hidup yang berat dan himpitan kehidupan yang semakin keras. Kondisi-kondisi ini tentu saja sangat mempengaruhi jalan pikirannya para pemuda, para pewaris masa depan. Remaja saat ini sepertinya kehilangan pegangan. Dan akhirnya, mereka memilih jalan mereka sendiri yang didasari semangat muda namun buta.
            Bebas Sebebas-bebasnya
            Ini dia yang paling sering terjadi. Kebebasan yang berlebihan didapatkan oleh pemuda. Seperti angin, nafsu dan kondisi kejiwaan pemuda yang memang menggelora dan menggebu-gebu akhirnya mendapat angin segar. Mulai dari bebasnya media dan segala informasi bisa diakses dengan instan, hingga kebebasan pergaulan yang kebablasan.
            Sudah banyak kasus hamil diluar nikah, aborsi, pemerkosaan, atau penggunaan obat-obatan terlarang yang begitu marak terus menghiasi layar kaca dan surat kabar di negeri ini. Dan hal itu harus diakui sebagai kegagalan kita dalam membentuk generasi yang gemilang. Mengapa? Karena mayoritas pelakunya adalah pemuda. Dan hal itu bisa menjadi gambaran kepada kita, betapa suramnya masa depan dunia.
            Secercah Cahaya
            Dan tentu setelah menemukan masalah, maka kita harus menemukan solusinya juga. Betul tidak?
            Jika kita tidak mau menjadi remaja bermental tempe, maka kuatkanlah pikiran, hati, dan mental kita. Jangan terlalu terbawa emosi dan perasaan, karena sesungguhnya kehidupan remaja (insya Allah) masih panjang. Jangan biarkan masalah menggelayut di pikiran anda. Tetaplah berpikiran lurus dan optimis dalam menghadapi segala hal, terlebih lagi masalah cinta. Jangan biarkan rasa cinta anda kepada lawan jenis mendominasi hati anda. Karena jika demikian, maka anda telah membiarkan hidup anda terus berada dalam bayang-bayang seseorang.
            Lalu, jika kita hidup maka tentu saja kita perlu arah, tujuan, pegangan, dan batasan-batasan. Dan darimana hal itu bisa kita dapat? Tentu saja kembali lagi kepada al-Qur’an dan sunnah. Dimana di dalamnya terdapat pegangan dan aturan hidup, terdapat solusi dari masalah anda, an terdapat batasan-batasan yang mencegah diri anda menyimpang.
            Karena itu, sudah seharusnya kita lebih meluruskan pikiran kita, dan terus menyadari hakikat kehidupan kita.
            Wallahu a’lam

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kupas Tuntas Hukum Shalat Berjama'ah di Masjid

            Semenjak kecil, kita sudah tahu bahwa shalat berjama’ah di masjid adalah salah satu bentuk ibadah yang sangat ditekankan oleh Islam melalui dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Banyak ummat Islam yang mengerjakan shalat berjama’ah karena ingin mendapatkan pahala dan semangat besar untuk beramal shalih. Memburu pahala dan menginginkan ridhaNya sekaligus mempererat tali ukhuwah Islamiya menjadi salah satu faktor terbesar untuk shalat berjama’ah di masjid Tetapi ternyata banyak yang masih belum tau bagaimana sebenarnya hukum dari shalat berjama’ah itu sendiri. Bagaimana sebenarnya para ulama menjelaskan mengenai hukum shalat berjama’ah di masjid, baik laki-laki maupun perempuan. Ustad A bilang itu wajib, kalau gak jama’ah di masjid gak sah shalatnya, Kiai B bilang itu sunnah saja. Jadi, mana yang benar?             Khilaf di Antara Para Ulama   ...

Kupas Tuntas: Adakah Bid'ah Hasanah?

“Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, namun tidak mendapatkannya” - HR. Ad Darimi , atsar Abdullah bin Mas’ud- Oleh: Ustadz Syariful Mahya Lubis, Lc.* Sejumlah jawaban direkayasa, sejumlah dalilpun dipaksakan, demi melegalkan bid’ah, dan demi memberanikan orang melakukannya. Pertanyaan tersebut terkait langsung dengan Islam, yang oleh karenanya membutuhkan jawaban yang merujuk kepada Al Qur’an dan Hadits sebagai sumber kebenaran dalam Islam, jawaban-jawaban yang hanya bersifat logika, tidak akan dapat menguak kebenaran dalam permasalahan Islam. Sebab selogis apapun sebuah jawaban tetap saja ia spekulasi relatif, yang sudah pasti dapat dipatahkan dengan hal yang sama, lebih-lebih apabila jawaban-jawaban logis tadi kontaradiktif dengan dalil-dalil yang syar’i. Definisi Nabi ï·º bersabda, “ Siapapun yang melakukan amal yang tidak kami perintahkan , maka amal tersebut tertolak (tidak diterima)” ( HR. Bukhari dan Muslim , dari ‘Aisyah) . Beliau juga bersabda, “ Setiap (ibadah) y...

Lebaran Ikut Siapa?

Permasalahan ini sering muncul dari berbagai pihak ketika menghadapi hari Arofah. Ketika para jama’ah haji sudah wukuf tanggal 9 Dzulhijah di Saudi Arabia, padahal di Indonesia masih tanggal 8 Dzulhijah, mana yang harus diikuti dalam puasa Arofah? Apakah ikut waktu jama’ah haji wukuf atau ikut penanggalan Hijriyah di negeri ini sehingga puasa Arofah tidak bertepatan dengan wukuf di Arofah? Syaikh Muhammad bin Shalih ‘Utsaimin pernah diajukan pertanyaan: Kami khususnya dalam puasa Ramadhan mubarok dan puasa hari Arofah, di antara saudara-saudara kami di sini terpecah menjadi tiga pendapat. Pendapat pertama : kami berpuasa bersama Saudi Arabia dan juga berhari Raya bersama Saudi Arabia. Pendapat kedua : kami berpuasa bersama negeri kami tinggal dan juga berhari raya bersama negeri kami.    Pendapat ketiga : kami berpuasa Ramadhan bersama negeri kami tinggal, namun untuk puasa Arofah kami mengikuti Saudi Arabia. Kami mengharapkan jawaban yang memuaskan mengenai puasa bulan Ram...