Langsung ke konten utama

Bersemangatlah! Anda Pejuang, Bukan Pecundang!


Jangan kalian kerdilkan semangat kalian. Aku tidak melihat sesuatu yang lebih dapat menjadikan seseorang lebih rendah daripada runtuhnya semangat yang ia miliki.
-Umar bin Khattab-

            Tahukah kamu film Finding Nemo? Atau mungkin sudah menontonnya? Ya, film yang berkisah tentang perjalanan seorang ayah ikan bernama Marlin yang ditemani oleh ikan lain bernama Dory untuk mencari si putera tercinta, Nemo, yang ditangkap oleh manusia dan terbawa hingga Australia. Dan tentu saja itu adalah perjalanan yang sangat sulit. Melintasi ribuan kilometer dan bertemu banyak tantangan. Mulai dari ikan hiu, bangkai kapal dengan bom, ikan lautan dalam, ubur-ubur, hingga jaring penangkap ikan.
            Ya, meskipun tantangan yang harus dihadapi itu banyak, namun Marlin tetap semangat mengejar puteranya. Dengan semangat yang menyala-nyala, ia menyusuri lautan luas demi bertemu puteranya. Dirinya ingin membuktikan, bahwa dirinya bukanlah ikan pecundang yang konyol. Dia ingin menunjukkan bahwa dirinya adalah seorang pejuang sejati. Dan demi hal itu, apa yang harus ia miliki? Tentu saja semangat yang besar!
            Dan, sudah saatnya kita mengambil pelajaran dari sekilas kisah di atas. Apa itu? Tentu saja. Untuk mencapai apa yang kita cita-citakan, maka sudah seharusnya kita memiliki suatu modal besar dalam diri kita masing-masing. Kita harus memiliki sesuatu yang kuat dalam hati kita, apa itu? Tentu saja hal itu adalah semangat, semangat yang membara!
            Kita sering mengabaikan aspek yang satu ini dari diri kita. Tidak jarang kita melakukan sesuatu tanpa semangat. Kita sering lupa bagaimana seharusnya kita bersemangat dalam berbagai hal. Karena dengan semangat, maka kita telah menabur benih-benih keberhasilan. Setidaknya, dengan semangat yang menyala, kita mampu bergerak lebih aktif dalam menghadapi segalanya.
            Masih ingatkah kita tentang kisah Nabi Yusuf dan Nabi Ya’qub? Ketika Nabi Yusuf dijatuhkan oleh saudaranya ke dalam sumur, ketika beliau pada awalnya dijadikan budak dan ditahan. Di tempat yang terpisah, ayahnya, Nabi Ya’qub, tidak pernah menyerah untuk mencarinya. Beliau tetap menaruh harapan untuk bertemu dengan puteranya. Dan di balik harapan yang beliau tanam, sesungguhnya ada sesuatu yang besar dibaliknya. Yaitu sebuah semangat! Nabi Ya’qub tidak pernah berputus asa dalam pencariannya. Bahkan beliau terus memotivasi putera-puteranya dengan kalimat yang diabadikan oleh Allah di dalam al-Qur’an dan menjadi salah satu kalimat yang seharusnya dijadikan pegangan oleh kita, kaum muslimin:

Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir
QS Yusuf: 87

            Atau masihkah kita ingat tentang Perang Badar, perang pertama kaum muslimin melawan kaum kafir Quraisy. Saat itu, jumlah pasukan antara kaum muslimin dengan kaum kafir Quraisy sebanding dengan 1:3. Belum lagi di tengah-tengah kaum kafir Quraisy terdapat banyak jawara-jawara dan jagoan Arab. Sementara itu, diantara kaum muslimin saat itu banyak orang yang tergolong ‘lemah’. Mungkin pikiran orang banyak akan menjatuhkan mental kaum muslimin. Namun, apakah kaum muslimin dengan begitu saja gentar? Apakah kaum muslimin dengan begitu saja langsung mundur? Apakah dengan begitu kaum muslimin langsung menyerah begitu saja? Tentu saja tidak! Justru kaum muslimin menghadapinya dengan semangat jihad. Dan hasilnya? Kaum muslimin muncul sebagai kekuatan baru di Jazirah Arab. Yang nantinya akan mengubah arah sejarah dunia. Dan hal itu juga dilandasi dengan beragam hal, tauhid, tawakkal, dll. Tapi salah satu yang paling mempengaruhi adalah: semangat!
            Ke mana arahnya semangat?
            Sebenarnya, orang-orang banyak kehilangan semangat karena mereka tidak tahu ke mana arah semangat itu sebenarnya.
            Jika kita lihat, maka apa yang dilihat oleh orang-orang yang memiliki semangat dalam menghadapi masalahnya?
            Sesungguhnya yang mereka lihat itu bukanlah masalahnya, tapi mereka melihat akhir dari masalahnya. Apa maksudnya?
            Banyak orang putus asa dan tidak bersemangat menyelesaikan masalahnya. Kenapa? Karena mereka melihat segala kesulitan di awal masalah yang mereka hadapi itu sangatlah besar. Sedangkan mereka tidak melihat bagaimana ujung masalah itu: kesuksesan menalkukkan tantangan. Memang, awalnya sulit, tetapi jika dilalui bukankah menjadi wujud sebuah kemenangan? Bahkan pepatah salaf menyebutkan:

Andaikata kesulitan itu memasuki lubang, niscaya kemudahan mengikutinya

            Ya, itulah yang dilihat oleh para pejuang, oleh orang-orang yang memiliki semangat bergelora di dalam hatinya. Dan jika anda masih ragu, maka simaklah firman Allah yang bersemayam di langit ke tujuh:

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan
QS al-Insyirah: 5-6

            Dalam surah ini (al-Insyirah) terjadi pengulangan kalimat. Hal itu ditafsirkan oleh para ulama sebagai wujud penekanan dari Allah subhanahu wa ta’ala.
            Masih ragu?
            Maka dari itu, nyalakanlah semangatmu! Kobarkanlah semangat hidupmu! Hidupkanlah jiwa pejuangmu!
            Wallahu a’lam

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tidak Sebaik Musa, Tidak Sejahat Fir'aun

“ Sesungguhnya Allah itu Maha Lembut, Dia mencintai kelembutan dalam segala urusan ” - HR. Bukhari - Sejenak, mari kita kembali ke zaman dahulu kala, kembali pada lembaran sejarah dunia yang dinodai oleh kekafiran seorang Fir’aun. Ya, diktator nomor 1 sepanjang sejarah manusia ini merupakan penguasa sebuah peradaban yang paling maju di dunia saat itu. Harta, tahta, dan dunia seakan keseluruhan adalah miliknya. Tapi memang dasar Fir’aun, ia yang tidak akan pernah merasa puas, Ia yang tak merasa cukup menjadi manusia saja, ia ingin menjadi lebih daripada itu, ia memiliki obsesi untuk melampaui batas-batas kemanusiaan. Ya, ia ingin menjadi TUHAN. “ Kemudian (Fir’aun) berkata, “Akulah tuhanmu yang paling tinggi ”” ( QS. An Naazi’at: 24 ) Dan dengan segala kekuasaan yang ia miliki, ia daulat dirinya sendiri sebagai Rabb semesta alam. Tangan besi Fir’aun yang telah merampas kehormatan ribuan atau mungkin jutaan manusia telah memaksa mereka untuk tunduk patuh secara mutlak kepada titahnya. E...

Kupas Tuntas: Adakah Bid'ah Hasanah?

“Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, namun tidak mendapatkannya” - HR. Ad Darimi , atsar Abdullah bin Mas’ud- Oleh: Ustadz Syariful Mahya Lubis, Lc.* Sejumlah jawaban direkayasa, sejumlah dalilpun dipaksakan, demi melegalkan bid’ah, dan demi memberanikan orang melakukannya. Pertanyaan tersebut terkait langsung dengan Islam, yang oleh karenanya membutuhkan jawaban yang merujuk kepada Al Qur’an dan Hadits sebagai sumber kebenaran dalam Islam, jawaban-jawaban yang hanya bersifat logika, tidak akan dapat menguak kebenaran dalam permasalahan Islam. Sebab selogis apapun sebuah jawaban tetap saja ia spekulasi relatif, yang sudah pasti dapat dipatahkan dengan hal yang sama, lebih-lebih apabila jawaban-jawaban logis tadi kontaradiktif dengan dalil-dalil yang syar’i. Definisi Nabi ï·º bersabda, “ Siapapun yang melakukan amal yang tidak kami perintahkan , maka amal tersebut tertolak (tidak diterima)” ( HR. Bukhari dan Muslim , dari ‘Aisyah) . Beliau juga bersabda, “ Setiap (ibadah) y...

Mulia Sebagai Seorang Muslim

“Ketahuilah, kita adalah kaum yang paling hina, lalu Allah memuliakan dengan mendatangkan agama Islam. Karena itu jika kita mencari kemuliaan dengan selain Islam, maka Dia akan menghinakan kita” -Umar bin Khattab, Lihat dalam Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah - Umar bin Khaththab namanya. Ia adalah orang yang telah meruntuhkan Kerajaan Kisra Persia dan juga telah menghapus hegemoni Kaisar Romawi –dengan izin Allah-. Ia seorang penguasa Islam dengan kesahajaannya yang memukau. Ya, Ia yang dengan tenang tidur di bawah pohon kurma di Kota Madinah sementara penguasa lain tidur di atas kemewahan, ia yang memakai pakaian tenun sederhana sementara penguasa lain memakai pakaian bertahtakan permata.  Dan kini, Ia sedang berjalan menuju Syam dalam rangka penyerahan Baitul Maqdis kepada kaum muslimin. Dalam perjalanan itu ia sempat melewati sebuah sungai. tidak disangka, ia langsung turun, mengalungkan sepatunya, dan menuntun sendiri untanya! Ketika penguasa lain yang telah merasa tinggi deng...