Langsung ke konten utama

Nikmatnya Keimanan


Sebenarnya, nikmat apa yang paling utama? Nikmat apa yang sering kita lupakan? Nikmat apa yang jarang kita syukuri? Mungkin banyak yang akan menjawab nikmat kesehatan. Namun, ternyata ada satu nikmat yang jauh lebih penting dan lebih bermanfaat bagi kita yang justru jarang kita syukuri. Nikmat apa itu? Jawabannya adalah nikmat iman.
            Mengapa nikmat iman itu penting?
            Nikmat iman sebenarnya adalah karunia Allah yang paling mulia. Bayangkan saja, dengan keimanan yang tertancap di hati, maka kehidupan ini akan berjalan dengan lancar dan mulus. Dengan keimanan ini, kehidupan kita akan menjadi sejuk. Bayangkan bila di kehidupan ini tidak ada rasa keimanan yang tumbuh di hati manusia. Bagaimana jadinya dunia ini? Iman itu bagaikan penunjuk arah. Bila tidak ada keimanan, maka bagaimana kehidupan akan berjalan? Kehidupan akan menjadi tanpa arah bila keimanan itu tidak ada.
            Syukuri Nikmat Itu!
            Dan sekarang, sudah saatnya anda mulai merenung dan berpikir. Bahwa bila anda memiliki keimanan itu di hati anda, maka anda adalah manusia yang sangat beruntung. Anda adalah manusia yang dirahmati Allah. Mengapa?
            Cobalah anda buka kisah para nabi Allah. Dan cermati kisah-kisah itu dengan baik. Cobalah anda buka dari mulai Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Luth, hingga Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Coba anda simak baik-baik kisah-kisah mereka yang diutus Allah. Adakah ibrah dari kisah mereka? Tentu banyak. Tapi satu hal yang berkaitan dengan pembahasan kita kali ini: Nikmat Iman.
            Jika anda adalah manusia yang dihatinya bersemi keimanan, maka bersyukurlah! Karena anda telah dikaruniai nikmat yang sangat agung oleh Allah, nikmat keimanan!

            Bayangkanlah, bukankah nikmat keimanan itulah yang diminta oleh Nabi Nuh untuk puteranya, Nabi Ibrahim untuk ayahnya, Nabi Luth untuk isterinya, dan Nabi Muhammad untuk pamannya?

            Bukankah Nabi Nuh ingin agar di dalam hati anaknya, Kan’an, bersemi keimanan?
            Bukankah Nabi Ibrahim pernah meminta kepada Allah agar di hati Azar, ayahnya yang merupakan pembuat patung, tumbuh keimanan?
            Bukankah Nabi Luth ingin agar hati isterinya tertancap keimanan?
            Bukankah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam pernah meminta agar di hati pamannya, Abu Thalib, terdapat keimanan?
            Namun, apakah Abu Thalib sempat beriman? Apakah Kan’an sempat beriman? Apakah Isteri nabi Luth sempat beriman? Apakah Azar pernah beriman? Anda insya Allah sudah tahu jawabannya.
            Dan sekarang, keimanan yang didamba-dambakan para Nabi untuk seluruh keluarga dan ummatnya itu ada di dalam hati anda. Keimanan yang telah dikaruniakan oleh Allah untuk anda.
            Karena itu, anda harus bersyukur! Anda bukanlah siapa-siapa. Anda bukan turunan Nabiyullah yang mulia, anda bukan keturunan Rasulullah yang mulia. Tapi ternyata, di dalam hati anda terdapat sesuatu yang pernah diminta oleh Ibrahim, Luth, Nuh, dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam untuk keluarganya.
            Bahkan sekarang, sudah berapa banyak orang yang Allah telah mencabut keimanan dari dalam hatinya. Saya sudah pernah berkali-kali mendengar kisah orang-orang yang hatinya tidak stabil karena tidak ada keimanan. Saya pernah mendengar kisah orang-orang nyeleneh di sana-sini. Seperti orang liberal dan sekuler yang melihat segala sesuatu dari sisi materi saja. Atau orang yang menjadi komunis dan menganggap Tuhan itu tidak ada karena logikanya, atau orang-orang yang murtad dari agama yang lurus yaitu Islam karena tertipu dunia.
            Maka dari itu, sudahkah anda rasakan nikmat iman itu di hati anda? Kalau sudah, maka resapi dalam-dalam keimanan itu, syukuri, dan pertahankanlah!
            Wallahu a’lam

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kupas Tuntas: Adakah Bid'ah Hasanah?

“Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, namun tidak mendapatkannya” - HR. Ad Darimi , atsar Abdullah bin Mas’ud- Oleh: Ustadz Syariful Mahya Lubis, Lc.* Sejumlah jawaban direkayasa, sejumlah dalilpun dipaksakan, demi melegalkan bid’ah, dan demi memberanikan orang melakukannya. Pertanyaan tersebut terkait langsung dengan Islam, yang oleh karenanya membutuhkan jawaban yang merujuk kepada Al Qur’an dan Hadits sebagai sumber kebenaran dalam Islam, jawaban-jawaban yang hanya bersifat logika, tidak akan dapat menguak kebenaran dalam permasalahan Islam. Sebab selogis apapun sebuah jawaban tetap saja ia spekulasi relatif, yang sudah pasti dapat dipatahkan dengan hal yang sama, lebih-lebih apabila jawaban-jawaban logis tadi kontaradiktif dengan dalil-dalil yang syar’i. Definisi Nabi ï·º bersabda, “ Siapapun yang melakukan amal yang tidak kami perintahkan , maka amal tersebut tertolak (tidak diterima)” ( HR. Bukhari dan Muslim , dari ‘Aisyah) . Beliau juga bersabda, “ Setiap (ibadah) y...

Kupas Tuntas Hukum Shalat Berjama'ah di Masjid

            Semenjak kecil, kita sudah tahu bahwa shalat berjama’ah di masjid adalah salah satu bentuk ibadah yang sangat ditekankan oleh Islam melalui dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Banyak ummat Islam yang mengerjakan shalat berjama’ah karena ingin mendapatkan pahala dan semangat besar untuk beramal shalih. Memburu pahala dan menginginkan ridhaNya sekaligus mempererat tali ukhuwah Islamiya menjadi salah satu faktor terbesar untuk shalat berjama’ah di masjid Tetapi ternyata banyak yang masih belum tau bagaimana sebenarnya hukum dari shalat berjama’ah itu sendiri. Bagaimana sebenarnya para ulama menjelaskan mengenai hukum shalat berjama’ah di masjid, baik laki-laki maupun perempuan. Ustad A bilang itu wajib, kalau gak jama’ah di masjid gak sah shalatnya, Kiai B bilang itu sunnah saja. Jadi, mana yang benar?             Khilaf di Antara Para Ulama   ...

Lebaran Ikut Siapa?

Permasalahan ini sering muncul dari berbagai pihak ketika menghadapi hari Arofah. Ketika para jama’ah haji sudah wukuf tanggal 9 Dzulhijah di Saudi Arabia, padahal di Indonesia masih tanggal 8 Dzulhijah, mana yang harus diikuti dalam puasa Arofah? Apakah ikut waktu jama’ah haji wukuf atau ikut penanggalan Hijriyah di negeri ini sehingga puasa Arofah tidak bertepatan dengan wukuf di Arofah? Syaikh Muhammad bin Shalih ‘Utsaimin pernah diajukan pertanyaan: Kami khususnya dalam puasa Ramadhan mubarok dan puasa hari Arofah, di antara saudara-saudara kami di sini terpecah menjadi tiga pendapat. Pendapat pertama : kami berpuasa bersama Saudi Arabia dan juga berhari Raya bersama Saudi Arabia. Pendapat kedua : kami berpuasa bersama negeri kami tinggal dan juga berhari raya bersama negeri kami.    Pendapat ketiga : kami berpuasa Ramadhan bersama negeri kami tinggal, namun untuk puasa Arofah kami mengikuti Saudi Arabia. Kami mengharapkan jawaban yang memuaskan mengenai puasa bulan Ram...