Langsung ke konten utama

Nabi Buta Huruf, Tanda Keterbelakangan Islam?

Pertanyaan: Di zaman ini kita sering sekali menemukan (lewat berbagai media, mulai dari media cetak seperti majalah atau elektronik seperti televisi dan internet) bahwa buta huruf adalah tanda dari keterbelakangan dan keterpurukkan.  Sementara itu, Allah telah mensifati ummat ini dengat umat yang ummiyyah (buta huruf).
Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka
(QS. Al-Jumu’ah: 2)
            Maka saya harap penjelasan Syaikh mengenai hal itu.

            Jawab: dulu ummat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dari bangsa-bangsa Arab dan Ajam (non-Arab) tidak bisa membaca dan menulis. Karenanya, mereka dinamai umat yang buta huruf. Sementara orang-orang yang dapat menulis dan membaca di antara mereka sangat sedikit bila dibandingkan dengan selain mereka. Dan Nabi kita juga tidak bisa membaca dan menulis. Allah berfirman:
Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya (Al-Qur’an) sesuatu kitab pun dan kamu tidak (pernah) menulis suatu kitab dengan tangan kananmu ; andaikata (kamu pernah membaca dan menulis), benar-benar ragulah orang yang mengingkari(mu)
(QS. Al-Ankabut: 48)
            Namun hal itu merupakan salah satu tanda kebenaran risalah (kerasulan) dan nubuwwah (kenabian) beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Karena beliau mendatangi umat manusia dengan membawa satu kitab yang mulia yang membuat lemah bangsa Arab dan Ajam (non-Arab). Allah telah mewahyukan dan menurunkan Ruhul Amin, yaitu Jibril, dengan membawanya kepada beliau. Allah telah mewahyukan kepada beliau sunnah yang suci dan ilmu orang-orang yang terdahulu yang cukup banyak.
            Allah mengabarkan pada beliau banyak hal berupa apa saja yang terjadi masa lalu dan apa yang akan terjadi di akhir zaman serta Hari Kiamat. Dia mengabarkan kepada beliau tentang surga dan neraka, para penghuninya. Semua itu adalah keutamaan yang Allah berikan pada beliau. Dengannya, Allah memberikan petunjuk pada manusia tentang derajat yang tinggi dan kerasulah beliau shallallahu ‘alaihi wasallam.
      Bukanlah pensifatan ummat ini dengan ummiyyah (buta huruf) dimaksudkan untuk memotivasi umat ini agar mereka tetap berada dalam kondisi tersebut, tapi maksudnya adalah pengabaran tentang realita dan keadaan mereka ketika Allah mengutus Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam kepada mereka.
            Al-Qur’an dan Sunnah memberikan motivasi untuk belajar dan menulis serta keluar dari sifat buta huruf. Allah berfirman,
Katakanlah, 'Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui.' Sesungguhnya, orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.
(QS. Az-Zumar: 9)
            Dia berfirman,
…Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat
(QS. Al-Mujadalah:11)
…Sesungguhnya yang merasa takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah orang-orang yang berilmu
(QS. Fathir: 28)
Barangsiapa yang menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.
(HR. Muslim no. 2699)
            Sementara itu, ayat dan hadits yang semakna dengan ini cukup banyak.
            Wabillahit-taufiq
           (Majmu’ Fatawa Syaikh Abdul Aziz bin Baz, juz I, bagian pertama. Dihimpun oleh Syaikh Abdullah ath-Thayyar)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tidak Sebaik Musa, Tidak Sejahat Fir'aun

“ Sesungguhnya Allah itu Maha Lembut, Dia mencintai kelembutan dalam segala urusan ” - HR. Bukhari - Sejenak, mari kita kembali ke zaman dahulu kala, kembali pada lembaran sejarah dunia yang dinodai oleh kekafiran seorang Fir’aun. Ya, diktator nomor 1 sepanjang sejarah manusia ini merupakan penguasa sebuah peradaban yang paling maju di dunia saat itu. Harta, tahta, dan dunia seakan keseluruhan adalah miliknya. Tapi memang dasar Fir’aun, ia yang tidak akan pernah merasa puas, Ia yang tak merasa cukup menjadi manusia saja, ia ingin menjadi lebih daripada itu, ia memiliki obsesi untuk melampaui batas-batas kemanusiaan. Ya, ia ingin menjadi TUHAN. “ Kemudian (Fir’aun) berkata, “Akulah tuhanmu yang paling tinggi ”” ( QS. An Naazi’at: 24 ) Dan dengan segala kekuasaan yang ia miliki, ia daulat dirinya sendiri sebagai Rabb semesta alam. Tangan besi Fir’aun yang telah merampas kehormatan ribuan atau mungkin jutaan manusia telah memaksa mereka untuk tunduk patuh secara mutlak kepada titahnya. E...

Kupas Tuntas: Adakah Bid'ah Hasanah?

“Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, namun tidak mendapatkannya” - HR. Ad Darimi , atsar Abdullah bin Mas’ud- Oleh: Ustadz Syariful Mahya Lubis, Lc.* Sejumlah jawaban direkayasa, sejumlah dalilpun dipaksakan, demi melegalkan bid’ah, dan demi memberanikan orang melakukannya. Pertanyaan tersebut terkait langsung dengan Islam, yang oleh karenanya membutuhkan jawaban yang merujuk kepada Al Qur’an dan Hadits sebagai sumber kebenaran dalam Islam, jawaban-jawaban yang hanya bersifat logika, tidak akan dapat menguak kebenaran dalam permasalahan Islam. Sebab selogis apapun sebuah jawaban tetap saja ia spekulasi relatif, yang sudah pasti dapat dipatahkan dengan hal yang sama, lebih-lebih apabila jawaban-jawaban logis tadi kontaradiktif dengan dalil-dalil yang syar’i. Definisi Nabi ï·º bersabda, “ Siapapun yang melakukan amal yang tidak kami perintahkan , maka amal tersebut tertolak (tidak diterima)” ( HR. Bukhari dan Muslim , dari ‘Aisyah) . Beliau juga bersabda, “ Setiap (ibadah) y...

Mulia Sebagai Seorang Muslim

“Ketahuilah, kita adalah kaum yang paling hina, lalu Allah memuliakan dengan mendatangkan agama Islam. Karena itu jika kita mencari kemuliaan dengan selain Islam, maka Dia akan menghinakan kita” -Umar bin Khattab, Lihat dalam Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah - Umar bin Khaththab namanya. Ia adalah orang yang telah meruntuhkan Kerajaan Kisra Persia dan juga telah menghapus hegemoni Kaisar Romawi –dengan izin Allah-. Ia seorang penguasa Islam dengan kesahajaannya yang memukau. Ya, Ia yang dengan tenang tidur di bawah pohon kurma di Kota Madinah sementara penguasa lain tidur di atas kemewahan, ia yang memakai pakaian tenun sederhana sementara penguasa lain memakai pakaian bertahtakan permata.  Dan kini, Ia sedang berjalan menuju Syam dalam rangka penyerahan Baitul Maqdis kepada kaum muslimin. Dalam perjalanan itu ia sempat melewati sebuah sungai. tidak disangka, ia langsung turun, mengalungkan sepatunya, dan menuntun sendiri untanya! Ketika penguasa lain yang telah merasa tinggi deng...